Minggu, 16 Juli 2017

SAFARI RAMADHAN 1438 H: SHOLAT TARAWIH DI MASJID-MASJID DI KOTA JEMBER

Setiap ramadhan selalu ada yang istimewa, di samping bulan ramadhan sendiri yang memang benar-benar istimewa. Kalo tahun-tahun sebelumnya saya melakukan Safari Ramadhan di kota Yogyakarta, tahun 2017 ini (1438 H) saya melakukan Safari Ramadhan ke masjid-masjid di kota Jember untuk melaksanakan sholat tarawih. Jika di Yogyakarta saya belum pernah menjumpai sholat tarawih plus witir sebanyak 23 rokaat, tapi di Jember ini bisa dibilang berimbang. Ada yang melaksanakan 23 rokaat dan banyak pula yang 11 rokaat. Kalo di Jogja tarawih yang saya ikuti selalu ada ceramahnya, tapi di Jember bervariasi. Ya itulah kata pribahasa “Lain ladang lain belalang lain lubuk lain pula ikannya”. Untuk ramadhan kali ini, saya hanya safari sholat tarawih di Jember mulai hari pertama sampai hari ke 26. Setelah itu hari ke 27 sampai hari ke 29 saya tarawih di kota Batu karena sudah mudik. Berikut ini masjid-masjid yang saya kunjungi untuk mengadakan sholat tarawih. 

1. Masjid An Nuur (26 Mei 2017)
Masjid ini terletak di Jl. PB Sudirman I no. 23, Jember Lor, Patrang, Jember  dan berjarak 15 m dari rel kereta api Jember-Banyuwangi. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

2. Masjid Al-Hikmah (27 Mei 2017)
Masjid ini merupakan masjid kampus Universitas Jember yang terletak di Jl. Kalimantan No. 37 Bumi Tegal Boto Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

3. Masjid Baitul Muslim (28 Mei 2017)
Masjid ini terletak di perkampungan Pagah Jl. Belimbing Jember Lor Patrang Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

4. Masjid Nur Inka (29 Mei 2017)
Masjid ini terletak di Brigif 9 Jl dr. Soebandi, Jember 68118. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat. Nama Inka sendiri diambil dari putri almarhumah Gatot Nurmantyo. Jadi, Masjid Nur Inka secara keseluruhan artinya sinar untuk Inka. Nama ini diberikan untuk menghormati putrinya yang sudah meninggal. Beberapa masjid Nur Inka di Inonesia diantaranya ada di:
a.       Desa Kemantren Kecamatan Jabung kab Malang
b.       Museum Brawijaya Malang
c.       Brigif 9 Kostrad Jember
d.       Wisata Gn.Bunder Ciampea –Bogor
e.       Desa Banraas, Pulau Giliiyang, Kecamatan Dungkek,  Kabupaten Sumenep, Madura
f.        Banjar Talela Jl. Kamal - Kalianget, Taddan, Camplong, Kabupaten Sampang, Jawa Timur 69281

5. Masjid Al Mizan (30 Mei 2017)
Masjid ini terletak di Jl. Kalimantan No.3 Kompleks Kantor Pengadilan Negeri Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

6. Masjid Tholabul Ilmi (31 Mei 2017)
Masjid ini terletak di kompleks Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia Jl PB Sudirman Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

7. Masjid Cheng Hoo (1 Juni 2017)
Masjid Cheng Hoo Jember ini berada di Kelurahan Sempusari Kecamatan Kaliwates, Kota Jember, diresmikan, Minggu 13 September 2015 setelah tiga tahun pembangunan. Masjid ini menjadi Masjid Cheng Hoo kedelapan di Indonesia setelah Surabaya, Palembang, Pandaan, Purbalingga, Gowa, Samarinda dan Batam. Lokasi Masjid ini berada di belakang kantor Kelurahan Sempusari jl Hayam Wuruk, dan tak jauh dari pusat peebelanjaan Carrefour Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

Nama Cheng Hoo diambil dariseorang laksamana dari Kerajaan Dinasti Ming yang melakukan ekspedisi ke beberapa belahan dunia untuk melakukan perdagangan rempah-rempah dan kain sutra maupun misi damai menyebarkan agama Islam melalui jalur laut. Selain itu Cheng Ho mewariskan peta navigasi yang cukup modern dan membawa kebudayaan dari tempat yang ia kunjungi. Seperti yang kita ketahui, Cheng Hoo adalah seorang kasim Muslim yang dipercaya oleh kaisar pada waktu itu. Laksamana Cheng Hoo sendiri menurut sejarahnya memiliki armada yang besar dan banyak dalam melakukan ekspedisinya. Tercatat ekspedisi tersebut dilakukannya sebanyak tujuh (7) kali dan bahkan hingga sampai pada benua Afrika. Armada Cheng Hoo berhubungan erat dengan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara pada saat itu. Seperti Kerajaan Samudra Pasai, Kesultanan Cirebon, hingga Kerajaan Majapahit. Jejak peninggalannya di Indonesia juga cukup banyak, salah satu contohnya adalah Klenteng Sam Po Kong di Semarang maupun gong yang berada di Aceh dan lain-lain. Di Jember keberadaan masjid ini menjadi bukti bahwa Kabupaten Jember memiliki kemajemukan penduduk Jember yang sangat variatif dan sangat terbuka menerima setiap kebudayaan dan agama dengan penuh rasa kebhineka tunggal ikaan. Masjid yang memiliki gaya arsitektur Tionghoa dibangun dan menempati tanah Pemerintah kabupaten Jember yang dihibahkan. Masjid yang diresmikan secara langsung oleh mantan Bupati Jember M.Z.A Djalal pada 13 Sepetember 2015. Sepintas Masjid yang dibangun warga PITI Jember ini mirip bangunan Klenteng, yang merupakan pusat ritual warga Tionghoa pada umumnya. Coraknya pun banyak didominasi warna merah, kuning, hijau, dan ornamen Tiongkok Lama. Juga memiliki delapan sisi pada bagian atas bangunan utama. Bangunan masjid itu juga "sarat makna" pada setiap ukurannya. Misalnya, bangunan berukuran 11 x 9 meter. Angka 11 memiliki arti bahwa ukuran Kakbah saat dibangun. Sedangkan angka 9 sebagai lambang Wali Songo, yang sangat berjasa besar dalam dakwah islam di Jawa. Dan masih banyak lagi lambang dan nuansa yang penuh makna bagi warga PITI pada umumnya, seperti jumlah sudut pada pagoda yang berjumlah 8 sudut, karena angka 8 dianggap angka keberuntungan dan bertingkat 5 yang bermakna pancasila.

8. Masjid Roudhotul Muchlisin (2 Juni 2017)
Masjid Roudhotul Muchlisin di Jl Gajah Mada, Kaliwates, Kota Jember ini sudah lama berdiri. Hanya, sekarang sudah dirombak total. Tampilannya baru dan mentereng. Masjid yang diresmikan secara simbolis pada 15 Mei 2017 ini selalu dipadati jamaah dan pengunjung yang ingin tahu kemegahannya. Desain masjid ini meniru masjid-masjid yang ada di Turki. Terdapat untaian ayat- ayat suci Alquran yang terpampang di setiap sisi dindingnya yang didominasi warna kuning dan jingga. Masjid ini mampu menampung jamaah bisa mencapai 2.500 orang. Sejak dibangun pada 1978, masjid ini sebenarnya sudah melewati berbagai proses pembangunan. Setelah mendapat donasi, baru pada 2014 lalu proses pembangunan masjid ini kembali dikebut. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

9. Masjid Al Istiqomah (3 Juni 2017)
Masjid ini terletak di kompleks kampus Politeknik Negeri Jember Jl. Mastrip Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

10. Masjid Al Baitul Amien (4 Juni 2017)
Masjid Jami’ Al Baitul Amien Jember terdiri dari dua bangunan masjid yang dipisahkan oleh jalan protokol jurusan Jember-Surabaya. Bangunan Masjid lama dibangun sejak zaman kolonial Belanda pada tanggal 19 Desember 1894 dengan luas 2.760 meter persegi. Masjid ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1939 sebelum perang dunia II. Sedangkan bangunan masjid yang baru dibangun di atas tanah wakaf seluas 9.600 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 3 Mei 1976 oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada saat itu. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

11. Masjid Al Qolam (5 Juni 2017)
Masjid ini merupakan masjid kampus Universitas Muhammadiyah Jl Karimata Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

12. Masjid Baitus Salam
Masjid ini berada di jl Letjen DI Panjaitan No.70, Kebonsari, Sumbersari, Kabupaten Jember, Jawa Timur milik Polres Jember. Ruangan masjid ini ber-AC. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

13. Masjid An Nuur (7 Juni 2017)
(Seperti hari pertama)

14. Masjid Al Huda (8 Juni 2017)
Berada di Jl. Gajah Mada Jember di sebelah timur Mall Lippo. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

15. Masjid Nurush Salihin (9 Juni 2017)
Jl. Pattimura, Kaliwates, Kaliwates, Kabupaten Jember, Jawa Timur 68131. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

16. Masjid Al Muhajirin (10 Juni 2017)
Komplek Perumahan  Gunung Batu Sumbersari Jember. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

17.  Al Hikmah (11 Juni 2017)
Kompleks Perumahan Bukit Permai Jl. Padjajaran. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

18. Al Furqon (12 Juni 2017)
Berada di jl Trunojoyo. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

19. Al Muttaqin (13 Juni 2017)
Masjid ini berada di Talangsari jl. KH. Sidiq. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

20. Tholabul Ilmi (14 Juni 2017)
Seperti hari ke 6.

21. Al Kautsar (15 Juni 2017)
Berada di kompleks Secaba (Sekolah Calon Bintara). Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

22. Salahuddin Al-Ayyubi (16 Juni 2017)
Berada di kompleks Yon Armed 8. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

23. Baitul ‘Amal (17 Juni 2017)
Berada di perumahan Puri Sadewo Patrang. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

24. Al Mubarok (18 Juni 2017)
Berada di jl Slamet Riyadi Patrang. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 23 rokaat.

25. Baitul Muttaqin (19 Juni 2017)
Masjid ini berada di jl Jawa. Jumlah rokaat sholat tarawih plus witir adalah 11 rokaat.

26. (20 Juni 2017) Masjid Sunan Kalijaga
Masjid ini terletak tidak jauh dari kampus Unej yaitu di jl Kalimantan. Jumlah rokaat tarawih plus witir ada 23.

Untuk selanjutnya saya mudik ke Batu dan bersafari di sana. Sampai jumpa tahun berikutnya, inshaAllah.

Jumat, 12 Mei 2017

CATATAN PERJALANAN MALANG-LUMAJANG VIA SELATAN: 60 KM DAMPIT-CANDIPURO DENGAN 485 TIKUNGAN

Perjalanan Malang-Lumajang ini sebenarnya sudah lama saya lakukan tepatnya tanggal 15 Juli 2009, namun saya ulangi lagi dari arah sebaliknya (Lumajang-Malang) tanggal 12 Maret 2017 dan lima hari sebelum lebaran tahun 2022 . Karena flashdisk yang tertancap di kepala saya belum hilang/dicabut maka saya tuangkan dalam tulisan ini. Bisa jadi yang saya tuliskan ini dengan kondisi real sekarang sudah ada perubahan. Siiiiiiiiiiip deeeeehhh......

Gladak Perak Lumajang

Pada umumnya orang-orang yang mengadakan perjalanan dari Malang ke Lumajang atau sebaliknya lebih suka menggunakan jalur utara via Pasuruan dan Probolinggo karena jalan lebar dan relatif lurus sehingga waktu tempuh lebih cepat. Terlebih sekarang ini jalur Pasuruan-Probolinggo diperlebar dengan tambahan satu lajur lambat. Namun dasar saya menyukai tantangan disamping ingin mengenal lebih jauh jalur selatan dan tidak terburu-buru waktu, saya mencoba mengadakan perjalanan dari Malang ke Lumajang via jalur selatan: Malang-Turen-Dampit-Pronojiwo-Piket Nol-Pasirian-Lumajang yang dikenal berkelok-kelok dan relatif sempit dibanding via jalur utara.
Meskipun keberangkatan saya tidak dilepas walikota Malang, saya memulai start dari alun-alun Bunder depan balai kota Malang pagi hari rabu tepat anak saya kedua bernama Aisyah Nurafni berulang tahun yang ke-7, saya mengambil jalan di depan stasiun KA Malang hingga sampailah di terminal Gadang. Kemudian saya melanjutkan menuju kota Turen melewati Krebet. Jarak tempuh dari alun-alun bunder Malang hingga pertigaan desa Talok Turen sejauh 26,9 km. Sepanjang jalan itu terasa biasa-biasa saja tanpa ada kendala yang berarti karena jalan cukup lebar, jarang tanjakan dan tidak banyak tikungan. Hanya saja jalanan ramai oleh kendaraan, khususnya dari kota Malang hingga pertigaan Krebet, selepas Krebet hingga Turen cukup ramai dan lancar.
Selepas pertigaan Talok Turen, saya memilih belok kiri (timur) menuju Dampit. Pertigaan Talok ini merupakan arus pertemuan kendaraan dari arah Malang, Kepanjen/Blitar dan Dampit. Dari Talok Turen hingga perempatan depan pasar Dampit berjarak 9,8 km.
Keluar dari Dampit sudah mulai terasakan jalan tikungan dan tanjakan serta banyak kendaraan truk pengangkut pasir yang berlalu lalang. Maklumlah, di daerah Malang bagian tenggara dan Lumajang bagian selatan banyak yang berburu pasir karena pasir Semeru terkenal kualitas super berwarna lebih hitam dibandingkan pasir lain pada umumnya dan baik untuk pengecoran. Mulai keluar dari Dampit saya mencoba menghitung banyaknya belokan tanpa perlu menggunakan hitungan tasbih tapi cukup disimpan di otak saja. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan berkelok-kelok membuat saya sulit untuk mendahului kendaraan mobil di depan. Hitungan saya selepas Dampit hingga Candipuro sejauh kurang lebih 60 km ada sekitar 485 tikungan (coba sampeyan sekali-kali menghitung banyaknya tikungan jika lewat sana tapi nggak nyuruh lho !). Ini artinya banyaknya tikungan/kelokan ada sebanyak rata-rata 8 tikungan tiap kilometernya atau setiap 123 m ketemu satu tikungan. Di sisi lain, pemandangan alamnya sangat menakjubkan. Di sebelah utara jika cuaca cerah akan terlihat dengan jelas pasak bumi gunung Semeru gagah menjulang sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa (3.767 m dpl) yang kadang-kadang tiap 10 menit sekali batuk dan mengeluarkan asap. Ketika saya melintas kebetulan Semeru tertutup abunya sendiri karena sedang berulah tidak batuk lagi melainkan bersin sehingga sebagian wilayah di sisi selatan Semeru mengalami hujan abu. Di sepanjang jalan ini pula kita bisa mampir di tempat wisata misalnya Goa Tetes yang terletak di dekat gerbang perbatasan kabupaten Malang dan kabupaten Lumajang, dan juga Piket Nol untuk melihat Semeru dari ketinggian yang terletak antara Pronojiwo dan Candipuro. Juga, jika pas musim salak anda akan menemui banyak penjual salak di daerah Pronojiwo. Saat anda di sekitar Jembatan Perak sebaiknya lebih ekstra hati-hati karena jalanan sepi bahkan saat saya melintas jalan menemui seekor kera hitam ekor panjang menyeberang jalan tidak melalui zebra cross dan tanpa diseberangkan polisi.

Gambar 1. Tikungan di Pronojiwo

 Setelah Piket Nol, jalanan terus menurun hingga Candipuro dengan kiri jalan tebing yang tinggi dan sebelah kanan jurang yang dalam. Pada waktu itu banyak "polisi" liar yang mengatur lalu lintas di setiap tikungan bertebing tinggi dengan meminta imbalan uang. Namun kabarnya setelah adanya razia preman yang digencarkan polisi setelah ada kejadian di Jakarta kemudian dilanjutkan di seluruh Indonesia, maka tidak tampak lagi orang-orang itu. Masih selepas Piket Nol, berjejer warung penjual makanan dengan tempat-tempat istirahat menghadap ke jurang sehingga dapat melihat sungai bekas aliran lahar gunung Semeru.
Setelah melalui Candipuro, selanjutnya menuju Pasirian. Dari Candipuro hingga Pasirian jalanan sudah terasa nyaman karena jarang tikungan, tidak ada jurang dan tebing di sisi jalan dan jalan tidak naik turun lagi. Sampailah di Alun-alun Pasirian dengan jarak tempuh dari Candipuro sekitar 5 km.

Gambar 2. Gerbang masuk Pasirian dari arah Candipuro/Dampit

Keluar Pasirian berikutnya menuju Lumajang. Dari Pasirian ke Alun-alun Lumajang berjarak 19,7 km dengan melewati kota kecamatan Tempeh dengan kondisi jalan yang sudah cukup lebar. Hanya saja waktu saya melintasi jalan ini dari Pasirian sampai menjelang gerbang gapura kota Lumajang jalanan kasar yang tambal sulam sehingga jika melaju cukup kencang rasanya mencal-mencal kayak naik kuda liar Sumbawa. Lega rasanya setelah memasuki gerbang "Lumajang Atib Berseri" sebagai pertanda telah memasuki ibukota kabupaten Lumajang.

Gambar 3. Gerbang masuk kota Lumajang dari arah Pasirian

Sesampai di alun-alun Lumajang saatnya saya berburu kuliner untuk mengisi perut. Saya memilih mie ayam makanan kesukaan saya. Setelah puas makan saya mencoba mengitari alun-alun dan beristirahat sejenak di depan pendopo kabupaten.

Gambar 4. Di depan kantor bupati Lumajang

Jika saya perhatikan, jarak Malang-Lumajang via selatan tadi sejauh 122,2 km lebih dekat daripada via utara sejauh 138,7 km. Namun dalam hal waktu tempuh, Malang-Lumajang via selatan lebih lama dibanding via utara, maklumlah kecepatan saat di jalan berliku sepanjang 60 km hanya maksimal 40 km/jam. Hal inilah yang mungkin menjadikan mas Amin (sopir FMIPA Universitas Jember) enggan melewati jalan ini saat mengantar saya dan orang-orang MIPA takziah ke bapaknya pak Kusno sewaktu meninggal di Tulungagung.

Begitu juga perjalanan sebaliknya dari Lumajang-Malang. Tikungan awal saya hitung dari depan SMK Pembangunan Candipuro Lumajang. Kelokan ke 97 berada di gerbang masuk desa Supiturang kecamatan Pronojiwo. Kelokan di depan SMP Negeri Ampelgading merupakan kelokan ke 303. Kelokan terakhir yakni kelokan ke 485 berada di pertigaan ke arah Sukodono Dampit.

Gambar 5. Kelokan pertama (dari arah Lumajang-Malang) di depan SMK Pembangunan Candipuro

Gambar 6. Kelokan ke 97 di gerbang desa Supiturang Pronojiwo

Gambar 7. Kelokan ke 303 di depan SMPN Ampelgading

Gambar 8. Kelokan ke 485 di dekat pertigaan ke Sukodono Dampit

Gambar 9. Sempat singgah di air terjun Tumpak Sewu Pronojiwo Perbatasan Lumajang-Malang

Gambar 10. Mengulangi lagi ke air terjun Tumpak Sewu
 
 
Gambar 11. Mengulangi lagi untuk ketiga kalinya ke air terjun Tumpak Sewu

Sabtu, 25 Februari 2017

AIR TERJUN SILUWOK SAMIGALUH KAB.KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA

Ini dia sebuah lokasi piknik asik di gugusan perbukitan Menoreh yang perlu kita kunjungi saat berkunjung di Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Terletak di dusun Desa Keweron, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, air terjun Siluwok termasuk curug yang masih perawan.
                     

Rute yang bisa Anda lewati saat menuju curug yakni dari Terminal Jombor - Cebongan - Seyegan - Balangan - Kecamatan Minggir - perempatan Dekso - Samigaluh, Saat Anda menemukan plang Curug Sidoharjo, ikuti petunjuk dan jangan lupa GPS (Gunakan Penduduk Setempat), jika Anda bingung, jangan sungkan bertanya jika tersesat.
                     
                          
Lokasi Curug Siluwok dari tempat parkir berkisar antara 15 - 20 menit. Saat sampai di curug, Anda bisa melihat tingginya air terjun yang berkisar 20-an meter. Menariknya, Anda yang ingin mandi dicurug tersebut jangan terlalu dekat dengan hilir air terjun ya karena lumayan dalam, namun disekitarnya, airnya hanya setinggi dada orang dewasa, cukup aman buat Anda yang belum lihai berenang.
                     
Sebagai tips, selama musim hujan ini disarankan Anda wajib menggunakan sandal gunung dan membawa jas hujan sehingga tidak basah kuyup saat hujan mengenai Anda disepanjang perjalanan dari lokasi parkir hingga objek wisata.

Rabu, 22 Februari 2017

MESJID AGENG KARATON SURAKARTA HADININGRAT KOTA SURAKARTA - JAWA TENGAH

Mesjid Ageng Karaton Surakarta Hadiningrat, dahulu bernama Masjid Ageng Keraton Hadiningrat ini dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Terletak di sekitar Alun-alun Utara Keraton Surakarta, tepatnya di bagian barat, masjid ini memiliki posisi penting dalam penyebaran Agama Islam di Solo.
 

Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari peran penting yang dipegang oleh seorang raja pada saat itu. Ketika itu, raja tidak hanya menjadi pemangku kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tapi juga sebagai penyiar agama. Selain itu, pemilihan lokasi masjid yang dekat dengan keraton terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang juga dibangun di dekat keraton dan alun-alun keraton.

 


Berdiri di atas lahan seluas hampir 1 ha, bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter mampu menampung sekitar 2.000 jamaah. Sepanjang perjalanannya, masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi.

                      

Bangunan yang pertama dibuat adalah bagian utama masjid. Penambahan pertama dilakukan oleh Pakubuwono IV, yang memberikan kubah di bagian atas masjid. Tidak seperti kubah pada umumnya yang bergaya Timur Tengah, kubah pada masjid ini bergaya Jawa. Bentuknya menyerupai paku bumi.


 

Penambahan berikutnya dilakukan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membangun sebuah menara di sekitar masjid serta sebuah jam matahari untuk menentukan waktu solat. Pintu masuk masjid pun mengalami perubahan pada masa Pakubuwono X. Pintu bercorak gapuran bangunan Jawa beratap limasan diganti menjadi bercorak Timur Tengah – terdiri dari tiga pintu, dengan pintu yang berada di tengah lebih luas dari kedua pintu yang mengapitnya.


 

Sementara, Pakubuwono XIII membangun kolam yang mengitari bangunan utama masjid. Pembangunan kolam ini dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam masjid dalam keadaan bersih. Tapi, karena berbagai alasan, kolam ini tidak lagi difungsikan. Selain itu, Pakubuwono XIII juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan.

Penambahan terakhir dilakukan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di area masjid, ditambahkan beberapa bangunan dengan fungsi berbeda. Ada perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.


Pada masa lalu, pengurus masjid ini merupakan anggota abdi dalem keraton. Setiap pengurus diharuskan terlebih dahulu menuntut ilmu di Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum – yang terletak di antara masjid dengan Pasar Klewer. Tapi kini, hanya kepala pengurus masjid yang menjadi abdi dalem keraton – dengan gelar Tafsir Anom. Sementara, Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum dikelola oleh Departemen Agama dan dijadikan pendidikan untuk masyarakat umum.

 



Masih di sekitar masjid, tepatnya di sebelah utara, terdapat sebuah pemukiman yang bernama Kampung Gedung Selirang. Pemukiman ini sengaja dibangun untuk tempat tinggal para pengurus masjid.

Sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama, seperti sekaten dan maulud nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat. 


Selasa, 14 Februari 2017

TELUK LOVE KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR

Teluk Love merupakan tempat wisata yang terbilang baru yang berada di kecamatan Ambulu tepatnya sekitar 40 km sebelah selatan kota Jember atau sekitar 2 km timur pantai Watu Ulo. Berada di selatan pantai Payangan yang merupakan pantai yang cukup populer dan banyak dikunjungi para wisatawan.


Di pantai payangan ini anda bisa menyaksikan indahnya panorama pantai dengan deburan ombak yang terbilang cukup besar yang menerjang bebatuan cantik khas pantai payangan tersebut.
 

 
Selain menikmati pesona pantai payangan anda juga bisa menyaksikan pemadangan unik dari atas bukit yang dikenal dengan nama Teluk Love. Teluk love ini berada di area paling timur pantai payangan, kira-kira 200 meter jika dari area parkir pantai payangan, keindahan teluk love ini bisa anda saksikan dari atas bukit yang dikenal dengan nama bukit domba atau bukit Suroyo. Dinamai bukit domba karena di sekitar area bukit terdapat beberapa domba milik masyarakat setempat yang juga ikut menyaksikan keindahan pantai tersebut. Sampai di bukit domba ada akan dikenai biaya Rp.5000. Untuk menyusuri bukit tersebut,  kurang lebih 15 menit anda akan sampai di puncak bukit domba tersebut. Tiba di puncak anda akan terpukau dengan pemandangan pantai yang unik dan hanya ada di pantai payangan jember tersebut, yaitu pantai yang membentuk love yang terlihat cantik yang bisa anda nikmati dari atas bukit.



Di sore hari saat matahari terbenam pemandangan teluk love ini akan semakin indah ,terpaan angin pantai akan membuat anda tenggelam dalam kedamaian.
 
 
Untuk menuju Teluk Love ini, jika dari pusat kota Jember bisa menuju ke selatan ke arah Ambulu. Jika sudah sampai di perempatan Ambulu, ambil lurus dan sampai ketemu pertigaan kalau ke kanan menuju pantai Papuma. Cukup jalan lurus dan ikuti petunjuk arah maka anda akan sampai di pantai Payangan atau Teluk Love ini. Jalan untuk menuju pantai tidak semulus jalan di tengah kota,, maka sebelum anda berlibur kesini periksa kendaraan anda terutama pada ban.



PANTAI NELAYAN PUGER KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR

Pantai nelayan Puger terletak di kecamatan Puger kabupaten Jember sekitar 40 km di sebelah selatan kota Jember. Pantai ini sangat menarik dikunjungi bagi penikmat belanja ikan segar dan terasi. Ikan basah yang baru dipanen di lalut oleh nelayan langsung dalam keadaan segar dijual di Pusat Pelelangan Ikan di Puger.


Bagi fotografer mengambil foto-foto nelayan yang sedang merapatkan perahunya dan menurunkan hasil tangkapan ikannya adalah sudut foto yang menari untuk diambil. Perahu Madura yang warna warni catnya di timpa matahari yang bersinar terik dan langit biru menghasilkan foto-foto yang kontras.
Aktivitas nelayan mulai menjemur dan melipat jaring ikan, menurunkan muatan ikan sampai aktvitas menggotong hasil tangkapannya.
Bagi ibu-ibu yang suka membikin sambal terasi buat keluarganya , membeli terasi di Puger akan mendapatkan terasi asli dari udang apabila intar memilihnya. Terasi Puger yang asli dari udang banyak sekali bintik-bintik hitamnya. Harganya satu ons bisa Rp 10.000 apabila benar-benar yang asli udang.


Penjual ikan di Pasar Pelelangan Ikan Puger juga agak unik cara menjualnya dengan cara dikemas keranjang kecil dan djual secara acungan ala kaki lima. Ikan-ikan segar yang jarang ditemui di kota besar bisa dibeli disini dengan harga miring sekitar Rp 20.000 untuk ikan siap bakar dan udang sekitar Rp 30.000 serta cumi ukuran besar-besar juga Rp 30.000 an per kilogram.



MASJID AGUNG AL-AQSHO KABUPATEN KLATEN - JAWA TENGAH

Masjid Al-Aqsho Klaten terletak di tepi jalan raya Jogja-Solo ini, dibangun dengan anggaran senilai Rp65 miliar. Masjid ini mulai difungsikan sebagai tempat ibadah salat dan kegiatan keagamaan lainnya mulai Jumat (3/6/2016). Kalo saya boleh klaim, masjid ini yang termegah di Jawa Tengah. Untuk ukuran luas memang masih kalah dengan masjid Agung Jawa Tengah Semarang, tapi klo desain arsitektur Masjid Al-Aqsa ini juaranya.
Masjid ini dibangun oleh orang Jawa tapi bergaya Persia-Arab. Apalagi letaknya sangat strategis di tepi jalan Solo-Jogja.


KAMPUNG COKLAT KABUPATEN BLITAR - JAWA TIMUR

Kampung Coklat terletak di desa Plosorejo kecamatan Kademangan kabupaten Blitar, tepatnya di Jl. Banteng Blorok No.18. Untuk masuk ke area ini anda diharuskan membayar retribusi untuk pengembangan area wisata sebesar 5 ribu rupiah per orang. Apabila anda datang saat musim liburan, wisata kampung coklat ini sangat ramai.
Kampung Coklat merupakan tempat yang tepat untuk bersantai bersama keluarga dimana pengunjung akan bersantai di tengah kebun coklat dengan menu makanan dan minuman serba coklat. Berdiri tanggal 1 Januari 2005 (Gapoktan Guyup Santoso) - 17 Agustus 2014 (Kampung Coklat).



Di Kampung Coklat Blitar terdapat berbagai kios mini yang menjual berbagai makanan dan minuman seperti es coklat, coklat panas, nasi coklat, mie coklat, es krim dan makanan lainnya yang dijual Rp 5.000 - Rp 10.000. Ada juga makanan yang dijual prasmanan untuk pengunjung yang tidak sedekar ingin cemilan saja. Selain itu, ada terapi ikan dengan tarif Rp. 5.000. Semua bisa dinikmati di bawah pohon kakao yang rindang, membuat suasana menjadi semakin mengasyikkan. Ada fasilitas mushola bagi yang akan menunaikan ibadah sholat.
 

Di sebelah tempat bersantai, pengunjung bisa melihat kebuh bibit coklat dimana pohon coklat-coklat yang masih kecil ini disemai dan sudah muncul batangnya. Untuk edukasi, Kampung Coklat Blitar menyediakan berbagai macam paket wisata edukasi dengan tarif Rp. 15.000 - Rp. 50.000 dimana pengunjung bisa panen biji kakao, pengolahan biji kakao, diskusi dengan pakar bubidaya dan sebagainya. Untuk pembelian tiket edukasi bisa dilakukan di lokasi pembelian tiket masuk.


Selain fasilitas yang sudah disinggung di atas, terdapat berbagai jenis produk jadi hasil olahan biji coklat yang tersedia di Kampung Coklat. Produk bisa juga dipesan secara online dengan menggunakan jasa pengiriman produk ke lokasi tempat tinggal Anda.

Senin, 13 Februari 2017

MONUMEN PANCASILA JAYA LUBANG BUAYA CEMETUK KABUPATEN BANYUWANGI - JAWA TIMUR

Keganasan PKI tidak hanya terjadi di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah. Salah satunya ada di Desa Cemetuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Di monumen Lubang Buaya Cemetuk, juga terdapat patung Garuda Pancasila raksasa lengkap dengan relief peristiwa itu di bagian bawahnya.

Bagian belakang patung Garuda Pancasila terdapat tiga lubang dengan bentuk persegi. Ketiga lubang itulah yang dimaksud sebagai monumen lubang buaya. Tempat pembuangan para korban setelah dibantai secara massal pada 30 September 1965.

Gambar 1. Monumen Pancasila Jaya di Desa Cemetuk Banyuwangi

Dari tiga lubang buaya yang besar itu isinya 42 orang dibuang di sana dan yang lubang kecil-kecil itu 10 orang.Perspektif sejarah G30 S  dikemas dengan simbol-simbol relief, lubang buaya, dan beberapa teks di sekitar dinding patung menekankan kekejaman kelompok Partai Komunis Indonesia (PKI). PKI digambarkan telah membantai 62 orang yang ditandai dengan nama pemuda Pancasila.

Dalam teks di monumen tertulis, “Monumen Pancasila Jaya di sini pada tanggal 18-10-1965 telah terjadi pembunuhan massal terhadap 62 orang pemuda Pancasila oleh kebiadaban  G 30 S/PKI,”.

 
Gambar 2. Relief dan Monumen Lubang Buaya di Desa Cemetuk Banyuwangi

Terlepas siapa dalang peristiwa G30 S  tentang pembunuhan para jenderal di Jakarta, usai peristiwa tersebut telah memantik pembantaian massal di daerah. Salah satunya terjadi di Cemetuk, Cluring pada 18 Oktober 1965.

Menurut warga di sekitar monumen tersebut, menjelaskan monumen Lubang Buaya Cemetuk dibangun pada tahun 1994. Hingga saat ini cerita turun-temurun tentang peristiwa Lubang Buaya Cemetuk masih satu versi: Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) berafiliasi dengan PKI telah membantai para pemuda Ansor yang datang dari Muncar.

Bila diamati peristiwa pasca G30 S di Banyuwangi, khususnya di Cemetuk masih ada perlawanan dari PKI.

Gambar 3. Sumur-sumur pembantaian

Bila ingin berkunjung ke monumen Lubang Buaya Cemetuk, Anda bisa mengamati secara langsung bagaimana peristiwa kelam 1965 dalam ilustrasi relief. Terlepas siapa yang menjadi pelaku dan korban tentunya dari monumen Lubang Buaya Cemetuk bisa jadi refleksi. Jangan sampai peristiwa kelam tersebut kembali terulang.

Minggu, 29 Mei 2016

CANDI TIKUS DAN BAJANGRATU TROWULAN KABUPATEN MOJOKERTO - JAWA TIMUR

Candi Tikus ini terletak di di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, sekitar 13 km di sebelah tenggara kota Mojokerto. Dari jalan raya Mojokerto-Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke timur, melewati Kolam Segaran dan Candi Bajangratu yang terletak di sebelah kiri jalan. Candi Tikus juga terletak di sisi kiri jalan, sekitar 600 m dari Candi Bajangratu.
Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914. Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985. Nama 'Tikus' hanya merupakan sebutan yang digunakan masyarakat setempat. Konon, pada saat ditemukan, tempat candi tersebut berada merupakan sarang tikus.

Belum didapatkan sumber informasi tertulis yang menerangkan secara jelas tentang kapan, untuk apa, dan oleh siapa Candi Tikus dibangun. Akan tetapi dengan adanya miniatur menara diperkirakan candi ini dibangun antara abad 13 sampai 14 M, karena miniatur menara merupakan ciri arsitektur pada masa itu.


Bentuk Candi Tikus yang mirip sebuah petirtaan mengundang perdebatan di kalangan pakar sejarah dan arkeologi mengenai fungsinya. Sebagian pakar berpendapat bahwa candi ini merupakan petirtaan, tempat mandi keluarga raja, namun sebagian pakar ada yang berpendapat bahwa bangunan tersebut merupakan tempat penampungan dan penyaluran air untuk keperluan penduduk Trowulan. Namun, menaranya yang berbentuk meru menimbulkan dugaan bahwa bangunan candi ini juga berfungsi sebagai tempat pemujaan.

Bangunan Candi Tikus menyerupai sebuah petirtaan atau pemandian, yaitu sebuah kolam dengan beberapa bangunan di dalamnya. Hampir seluruh bangunan berbentuk persegi empat dengan ukuran 29,5 m x 28,25 m ini terbuat dari batu bata merah. Yang menarik, adalah letaknya yang lebih rendah sekitar 3,5 m dari permukaan tanah sekitarnya. Di permukaan paling atas terdapat selasar selebar sekitar 75 cm yang mengelilingi bangunan. Di sisi dalam, turun sekitar 1 m, terdapat selasar yang lebih lebar mengelilingi tepi kolam. Pintu masuk ke candi terdapat di sisi utara, berupa tangga selebar 3,5 m menuju ke dasar kolam.

Di kiri dan kanan kaki tangga terdapat kolam berbentuk persegi empat yang berukuran 3,5 m x 2 m dengan kedalaman 1,5 m. Pada dinding luar masing-masing kolam berjajar tiga buah pancuran berbentuk padma (teratai) yang terbuat dari batu andesit.
Tepat menghadap ke anak tangga, agak masuk ke sisi selatan, terdapat sebuah bangunan persegi empat dengan ukuran 7,65 m x 7,65 m. Di atas bangunan ini terdapat sebuah 'menara' setinggi sekitar 2 m dengan atap berbentuk meru dengan puncak datar. Menara yang terletak di tengah bangunan ini dikelilingi oleh 8 menara sejenis yang berukuran lebih kecil. Di sekeliling dinding kaki bangunan berjajar 17 pancuran berbentuk bunga teratai dan makara.
Hal lain yang menarik ialah adanya dua jenis batu bata dengan ukuran yang berbeda yang digunakan dalam pembangunan candi ini. Kaki candi terdiri atas susunan bata merah berukuran besar yang ditutup dengan susunan bata merah yang berukuran lebih kecil. Selain kaki bangunan, pancuran air yang terdapat di candi inipun ada dua jenis, yang terbuat dari bata dan yang terbuat dari batu andesit.


Perbedaan bahan bangunan yang digunakan tersebut menimbulkan dugaan bahwa Candi Tikus dibangun melalui tahap. Dalam pembangunan kaki candi tahap pertama digunakan batu bata merah berukuran besar, sedangkan dalam tahap kedua digunakan bata merah berukuran lebih kecil. Dengan kata lain, bata merah yang berukuran lebih besar usianya lebih tua dibandingkan dengan usia yang lebih kecil. Pancuran air yang terbuat dari bata merah diperkirakan dibuat dalam tahap pertama, karena bentuknya yang masih kaku. Pancuran dari batu andesit yang lebih halus pahatannya diperkirakan dibuat dalam tahap kedua. Walaupun demikian, tidak diketahui secara pasti kapan kedua tahap pembangunan tersebut dilaksanakan.

Candi Bajangratu

 

Rabu, 13 April 2016

WATU TEKEK SAMIGALUH KABUPATEN KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA

Lima kilometer sebelum wisata Puncak Suroloyo dari arah Bendo Kalibawang, kita bisa menemukan tempat wisata Watu Tekek ini. Dihitung dari kota Yogyakarta sekitar 45 km sebelah barat daya. Tepatnya di desa Sidoharjo kecamatan Samigaluh kabupaten Kulonprogo.


DESA WISATA KEDUNGMIRI IMOGIRI KABUPATEN BANTUL - D.I. YOGYAKARTA

Lokasi Desa Wisata berada di Dusun Kedungmiri Wunut, Desa Sriharjo, Kec. Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berjarak sekitar 22 km tenggara kota Yogyakarta.
Letak geografis atau batas batas wilayah :
a. Sebelah utara: Desa Mangunan Kec. Dingo.
b. Sebelah selatan: Desa Selopamioro, Kec. Imogiri.
c. Sebelah barat: Dusun Sompok, Desa Sriharjo.
d. Sebelah tim: Kehutanan Kec. Dlingo Bantul.


Kondisi wilayah perbukitan yang unik, terdiri dari dataran dan perbukitan deretan bukit, tebing atau jurang dalam dan terjal.Terdapat banyak kolong batu yang berbentuk goa sebagai hunian hewan  binatang liar. Kolong batu tersebut masyarakat kami menyebut "Song" antara lain :
· Song watu lawang dihuni harimau disebut makam kera.
· Song compleng pernah dihuni macan tempat menyimpan kambing sebagai bahan makanya
· Song manjlung, ditepian jurang tinggi sebagai tempat tinggal ratusan monyet ekor panjang.
· Song gogor dihuni macan dikala beranak.
· Song landak , sebagai tempat tinggal landak.
· Song sangupati ditepian jurang tinggi sebagai tempat tinggal ratusan kera ekor panjang.
Terdapat juga puncak bukit sudut pandang. Dari tempat tersebut kita dapat melihat pemandangan alam pedesaan yang menakjubkan, tempat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
· Puncak bukit Manjlung
· Puncak bukit Sangupati

Desa Kedung Miri sendiri mempunyai wisata alam berupa Curuk air terjun yang dinamakan Pancuran, selain itu terdapat tempat pemancingan di sekitar Sungai Oyo.


JEMBATAN KABANARAN KABUPATEN BANTUL DAN KABUPATEN KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA

Jembatan Kabanaran berada di pesisir Selatan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, diresmikan Presi...