Minggu, 16 Juli 2017
SAFARI RAMADHAN 1438 H: SHOLAT TARAWIH DI MASJID-MASJID DI KOTA JEMBER
Jumat, 12 Mei 2017
CATATAN PERJALANAN MALANG-LUMAJANG VIA SELATAN: 60 KM DAMPIT-CANDIPURO DENGAN 485 TIKUNGAN
Pada umumnya orang-orang yang mengadakan perjalanan dari Malang ke Lumajang atau sebaliknya lebih suka menggunakan jalur utara via Pasuruan dan Probolinggo karena jalan lebar dan relatif lurus sehingga waktu tempuh lebih cepat. Terlebih sekarang ini jalur Pasuruan-Probolinggo diperlebar dengan tambahan satu lajur lambat. Namun dasar saya menyukai tantangan disamping ingin mengenal lebih jauh jalur selatan dan tidak terburu-buru waktu, saya mencoba mengadakan perjalanan dari Malang ke Lumajang via jalur selatan: Malang-Turen-Dampit-Pronojiwo-Piket Nol-Pasirian-Lumajang yang dikenal berkelok-kelok dan relatif sempit dibanding via jalur utara.
Meskipun keberangkatan saya tidak dilepas walikota Malang, saya memulai start dari alun-alun Bunder depan balai kota Malang pagi hari rabu tepat anak saya kedua bernama Aisyah Nurafni berulang tahun yang ke-7, saya mengambil jalan di depan stasiun KA Malang hingga sampailah di terminal Gadang. Kemudian saya melanjutkan menuju kota Turen melewati Krebet. Jarak tempuh dari alun-alun bunder Malang hingga pertigaan desa Talok Turen sejauh 26,9 km. Sepanjang jalan itu terasa biasa-biasa saja tanpa ada kendala yang berarti karena jalan cukup lebar, jarang tanjakan dan tidak banyak tikungan. Hanya saja jalanan ramai oleh kendaraan, khususnya dari kota Malang hingga pertigaan Krebet, selepas Krebet hingga Turen cukup ramai dan lancar.
Selepas pertigaan Talok Turen, saya memilih belok kiri (timur) menuju Dampit. Pertigaan Talok ini merupakan arus pertemuan kendaraan dari arah Malang, Kepanjen/Blitar dan Dampit. Dari Talok Turen hingga perempatan depan pasar Dampit berjarak 9,8 km.
Keluar dari Dampit sudah mulai terasakan jalan tikungan dan tanjakan serta banyak kendaraan truk pengangkut pasir yang berlalu lalang. Maklumlah, di daerah Malang bagian tenggara dan Lumajang bagian selatan banyak yang berburu pasir karena pasir Semeru terkenal kualitas super berwarna lebih hitam dibandingkan pasir lain pada umumnya dan baik untuk pengecoran. Mulai keluar dari Dampit saya mencoba menghitung banyaknya belokan tanpa perlu menggunakan hitungan tasbih tapi cukup disimpan di otak saja. Jalanan yang tidak terlalu lebar dan berkelok-kelok membuat saya sulit untuk mendahului kendaraan mobil di depan. Hitungan saya selepas Dampit hingga Candipuro sejauh kurang lebih 60 km ada sekitar 485 tikungan (coba sampeyan sekali-kali menghitung banyaknya tikungan jika lewat sana tapi nggak nyuruh lho !). Ini artinya banyaknya tikungan/kelokan ada sebanyak rata-rata 8 tikungan tiap kilometernya atau setiap 123 m ketemu satu tikungan. Di sisi lain, pemandangan alamnya sangat menakjubkan. Di sebelah utara jika cuaca cerah akan terlihat dengan jelas pasak bumi gunung Semeru gagah menjulang sebagai gunung tertinggi di pulau Jawa (3.767 m dpl) yang kadang-kadang tiap 10 menit sekali batuk dan mengeluarkan asap. Ketika saya melintas kebetulan Semeru tertutup abunya sendiri karena sedang berulah tidak batuk lagi melainkan bersin sehingga sebagian wilayah di sisi selatan Semeru mengalami hujan abu. Di sepanjang jalan ini pula kita bisa mampir di tempat wisata misalnya Goa Tetes yang terletak di dekat gerbang perbatasan kabupaten Malang dan kabupaten Lumajang, dan juga Piket Nol untuk melihat Semeru dari ketinggian yang terletak antara Pronojiwo dan Candipuro. Juga, jika pas musim salak anda akan menemui banyak penjual salak di daerah Pronojiwo. Saat anda di sekitar Jembatan Perak sebaiknya lebih ekstra hati-hati karena jalanan sepi bahkan saat saya melintas jalan menemui seekor kera hitam ekor panjang menyeberang jalan tidak melalui zebra cross dan tanpa diseberangkan polisi.
Setelah Piket Nol, jalanan terus menurun hingga Candipuro dengan kiri jalan tebing yang tinggi dan sebelah kanan jurang yang dalam. Pada waktu itu banyak "polisi" liar yang mengatur lalu lintas di setiap tikungan bertebing tinggi dengan meminta imbalan uang. Namun kabarnya setelah adanya razia preman yang digencarkan polisi setelah ada kejadian di Jakarta kemudian dilanjutkan di seluruh Indonesia, maka tidak tampak lagi orang-orang itu. Masih selepas Piket Nol, berjejer warung penjual makanan dengan tempat-tempat istirahat menghadap ke jurang sehingga dapat melihat sungai bekas aliran lahar gunung Semeru.
Setelah melalui Candipuro, selanjutnya menuju Pasirian. Dari Candipuro hingga Pasirian jalanan sudah terasa nyaman karena jarang tikungan, tidak ada jurang dan tebing di sisi jalan dan jalan tidak naik turun lagi. Sampailah di Alun-alun Pasirian dengan jarak tempuh dari Candipuro sekitar 5 km.
Keluar Pasirian berikutnya menuju Lumajang. Dari Pasirian ke Alun-alun Lumajang berjarak 19,7 km dengan melewati kota kecamatan Tempeh dengan kondisi jalan yang sudah cukup lebar. Hanya saja waktu saya melintasi jalan ini dari Pasirian sampai menjelang gerbang gapura kota Lumajang jalanan kasar yang tambal sulam sehingga jika melaju cukup kencang rasanya mencal-mencal kayak naik kuda liar Sumbawa. Lega rasanya setelah memasuki gerbang "Lumajang Atib Berseri" sebagai pertanda telah memasuki ibukota kabupaten Lumajang.
Begitu juga perjalanan sebaliknya dari Lumajang-Malang. Tikungan awal saya hitung dari depan SMK Pembangunan Candipuro Lumajang. Kelokan ke 97 berada di gerbang masuk desa Supiturang kecamatan Pronojiwo. Kelokan di depan SMP Negeri Ampelgading merupakan kelokan ke 303. Kelokan terakhir yakni kelokan ke 485 berada di pertigaan ke arah Sukodono Dampit.
Gambar 5. Kelokan pertama (dari arah Lumajang-Malang) di depan SMK Pembangunan Candipuro
Sabtu, 25 Februari 2017
AIR TERJUN SILUWOK SAMIGALUH KAB.KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA
Rabu, 22 Februari 2017
MESJID AGENG KARATON SURAKARTA HADININGRAT KOTA SURAKARTA - JAWA TENGAH
Pembangunan masjid ini tidak terlepas dari peran penting yang dipegang oleh seorang raja pada saat itu. Ketika itu, raja tidak hanya menjadi pemangku kekuasaan tertinggi dalam pemerintahan, tapi juga sebagai penyiar agama. Selain itu, pemilihan lokasi masjid yang dekat dengan keraton terinspirasi dari Masjid Agung Demak yang juga dibangun di dekat keraton dan alun-alun keraton.
Berdiri di atas lahan seluas hampir 1 ha, bangunan utama masjid yang berukuran 34,2 meter x 33,5 meter mampu menampung sekitar 2.000 jamaah. Sepanjang perjalanannya, masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi.

Bangunan yang pertama dibuat adalah bagian utama masjid. Penambahan pertama dilakukan oleh Pakubuwono IV, yang memberikan kubah di bagian atas masjid. Tidak seperti kubah pada umumnya yang bergaya Timur Tengah, kubah pada masjid ini bergaya Jawa. Bentuknya menyerupai paku bumi.
Penambahan berikutnya dilakukan oleh Pakubuwono X. Pakubuwono membangun sebuah menara di sekitar masjid serta sebuah jam matahari untuk menentukan waktu solat. Pintu masuk masjid pun mengalami perubahan pada masa Pakubuwono X. Pintu bercorak gapuran bangunan Jawa beratap limasan diganti menjadi bercorak Timur Tengah – terdiri dari tiga pintu, dengan pintu yang berada di tengah lebih luas dari kedua pintu yang mengapitnya.
Sementara, Pakubuwono XIII membangun kolam yang mengitari bangunan utama masjid. Pembangunan kolam ini dimaksudkan agar setiap orang yang akan masuk ke dalam masjid dalam keadaan bersih. Tapi, karena berbagai alasan, kolam ini tidak lagi difungsikan. Selain itu, Pakubuwono XIII juga membangun ruang keputren dan serambi di bagian depan.
Penambahan terakhir dilakukan oleh Pemerintah Surakarta. Masih di area masjid, ditambahkan beberapa bangunan dengan fungsi berbeda. Ada perpustakaan, kantor pengelola, dan poliklinik.
Pada masa lalu, pengurus masjid ini merupakan anggota abdi dalem keraton. Setiap pengurus diharuskan terlebih dahulu menuntut ilmu di Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum – yang terletak di antara masjid dengan Pasar Klewer. Tapi kini, hanya kepala pengurus masjid yang menjadi abdi dalem keraton – dengan gelar Tafsir Anom. Sementara, Madrasah Mam Ba’ul ‘Ulum dikelola oleh Departemen Agama dan dijadikan pendidikan untuk masyarakat umum.
Masih di sekitar masjid, tepatnya di sebelah utara, terdapat sebuah pemukiman yang bernama Kampung Gedung Selirang. Pemukiman ini sengaja dibangun untuk tempat tinggal para pengurus masjid.
Sampai saat ini, Masjid Agung Surakarta masih menjadi pusat tradisi Islam di Keraton Surakarta. Masjid ini masih menjadi tempat penyelenggaraan berbagai ritual yang terkait dengan agama, seperti sekaten dan maulud nabi, yang salah satu rangkaian acaranya adalah pembagian 1.000 serabi dari raja kepada masyarakat.
Selasa, 14 Februari 2017
TELUK LOVE KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR
PANTAI NELAYAN PUGER KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR
Bagi fotografer mengambil foto-foto nelayan yang sedang merapatkan perahunya dan menurunkan hasil tangkapan ikannya adalah sudut foto yang menari untuk diambil. Perahu Madura yang warna warni catnya di timpa matahari yang bersinar terik dan langit biru menghasilkan foto-foto yang kontras.
Aktivitas nelayan mulai menjemur dan melipat jaring ikan, menurunkan muatan ikan sampai aktvitas menggotong hasil tangkapannya.
Bagi ibu-ibu yang suka membikin sambal terasi buat keluarganya , membeli terasi di Puger akan mendapatkan terasi asli dari udang apabila intar memilihnya. Terasi Puger yang asli dari udang banyak sekali bintik-bintik hitamnya. Harganya satu ons bisa Rp 10.000 apabila benar-benar yang asli udang.
Penjual ikan di Pasar Pelelangan Ikan Puger juga agak unik cara menjualnya dengan cara dikemas keranjang kecil dan djual secara acungan ala kaki lima. Ikan-ikan segar yang jarang ditemui di kota besar bisa dibeli disini dengan harga miring sekitar Rp 20.000 untuk ikan siap bakar dan udang sekitar Rp 30.000 serta cumi ukuran besar-besar juga Rp 30.000 an per kilogram.
MASJID AGUNG AL-AQSHO KABUPATEN KLATEN - JAWA TENGAH
KAMPUNG COKLAT KABUPATEN BLITAR - JAWA TIMUR
Senin, 13 Februari 2017
MONUMEN PANCASILA JAYA LUBANG BUAYA CEMETUK KABUPATEN BANYUWANGI - JAWA TIMUR

Minggu, 29 Mei 2016
CANDI TIKUS DAN BAJANGRATU TROWULAN KABUPATEN MOJOKERTO - JAWA TIMUR
Rabu, 13 April 2016
WATU TEKEK SAMIGALUH KABUPATEN KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA
DESA WISATA KEDUNGMIRI IMOGIRI KABUPATEN BANTUL - D.I. YOGYAKARTA
Letak geografis atau batas batas wilayah :
a. Sebelah utara: Desa Mangunan Kec. Dingo.
b. Sebelah selatan: Desa Selopamioro, Kec. Imogiri.
c. Sebelah barat: Dusun Sompok, Desa Sriharjo.
d. Sebelah tim: Kehutanan Kec. Dlingo Bantul.
· Song compleng pernah dihuni macan tempat menyimpan kambing sebagai bahan makanya
· Song manjlung, ditepian jurang tinggi sebagai tempat tinggal ratusan monyet ekor panjang.
· Song gogor dihuni macan dikala beranak.
· Song landak , sebagai tempat tinggal landak.
· Song sangupati ditepian jurang tinggi sebagai tempat tinggal ratusan kera ekor panjang.
Terdapat juga puncak bukit sudut pandang. Dari tempat tersebut kita dapat melihat pemandangan alam pedesaan yang menakjubkan, tempat tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
· Puncak bukit Manjlung
· Puncak bukit Sangupati
JEMBATAN KABANARAN KABUPATEN BANTUL DAN KABUPATEN KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA
Jembatan Kabanaran berada di pesisir Selatan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Kulonprogo Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, diresmikan Presi...
-
JELAJAH RUTE GERILYA PANGLIMA BESAR JENDERAL SOEDIRMAN Oleh : Firdaus Ubaidillah Robek-robeklah badanku, potong-potonglah jasadku, t...
-
Perjalanan Malang-Lumajang ini sebenarnya sudah lama saya lakukan tepatnya tanggal 15 Juli 2009, namun saya ulangi lagi dari arah sebaliknya...
-
Tugu Jogja di persimpangan jalan P. Diponegoro kota Yogyakarta. pada zaman dahulu memiliki ketinggian yang lebih tinggi, sekitar 25 meter d...












































