Jumat, 29 Desember 2023

MUSEUM ANJUK LADANG KABUPATEN NGANJUK - JAWA TIMUR

Museum Anjuk Ladang berada di Kabupaten Nganjuk merupakan museum umum yang dibangun tahun 1993-1996 atas prakarsa Bupati Nganjuk pada saat itu, yaitu Drs. R. Sutrisno, yang menghendaki seluruh benda cagar budaya yang ada pada saat itu termasuk juga temuan nantinya bisa ditampung di museum ini. Koleksi museum tersebut diharapkan bisa bermanfaat sebagai ilmu pengetahuan, sejarah, pendidikan, dan agama. 

 Museum Anjuk Ladang resmi difungsikan sebagai museum pada 10 April 1996 bertepatan dengan hari jadi Kabupaten Nganjuk ke-1059. Museum ini awalnya digunakan sebagai sebagai kantor Dinas Pariwisata dan Purbakala Kabupaten Nganjuk dan koleksi museum merupakan koleksi yang berada di Balai Arca. Balai Arca berada di Kelurahan Mangundikaran, tepatnya di sebelah utara Alun-alun Kabupaten Nganjuk. Balai Arca ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan arca, lingga, yoni dan berbagai penemuan lain. Hal itu menyebabkan sebagian besar koleksi yang dimiliki Museum Anjuk Ladang ini tertulis berasal dari Kelurahan Mangundikaran.

 
Nama Museum Anjuk Ladang diambil diambil dari penamaan desa dalam prasasti Anjuk Ladang yang juga menjadi asal mula nama Nganjuk.

 



Rabu, 27 Desember 2023

MASJID NAMIRA KABUPATEN LAMONGAN - JAWA TIMUR

 Masjid Namira terletak di desa Jotosanur kecamatan Tikung Kabupaten Lamongan - Jawa Timur, berjarak sekitar 5 km selatan Alun-alun Lamongan.  Masjid  ini beroperasi resmi sejak Juni 2013.


Bentuk bangunan masjid Namira terinspirasi dari Masjid Namirah. Belum lagi kiswah Kakbah asli di bagian mihrab imam.

Dalam pembangunan awal, Masjid Namira hanya berkapasitas sekitar 500 jemaah saja. Pemiliknya yakni pasangan suami istri Helmy Riza dan Eny Yuli Arafah.

Baca artikel detikjatim, "Megahnya Masjid Namira Milik Pasangan Crazy Rich Lamongan" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6642879/megahnya-masjid-namira-milik-pasangan-crazy-rich-lamongan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Dalam pembangunan awal, Masjid Namira hanya berkapasitas sekitar 500 jemaah saja. Pemiliknya yakni pasangan suami istri Helmy Riza dan Eny Yuli Arafah.

Baca artikel detikjatim, "Megahnya Masjid Namira Milik Pasangan Crazy Rich Lamongan" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6642879/megahnya-masjid-namira-milik-pasangan-crazy-rich-lamongan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
 
Awal pembangunan masjid ini berkapasitas 500 jamaah, namun pada tahun 2016 direnovasi masjidnya menjadi berkapasitas 2.500 jamaah. Masjid ini menyelenggarakan kegiatan rutin pengajian
Dalam pembangunan awal, Masjid Namira hanya berkapasitas sekitar 500 jemaah saja. Pemiliknya yakni pasangan suami istri Helmy Riza dan Eny Yuli Arafah.

Baca artikel detikjatim, "Megahnya Masjid Namira Milik Pasangan Crazy Rich Lamongan" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6642879/megahnya-masjid-namira-milik-pasangan-crazy-rich-lamongan.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/



PASAR INDUK AMONG TANI KOTA BATU - JAWA TIMUR

Pasar Induk Among Tani Kota Batu Jawa Timur terletak sekitar 2 km dari pusat kota Batu. Terletak di jl Dewi Sartika Kelurahan Temas Kota Batu, baru diresmikan oleh presiden Jokowi pada  awal Desember 2023.



Di lantai 3 disediakan pusat kuliner yang menjajakan aneka makanan murah. Saya mencoba mie ayam harganya hanya rp 8.000,- dan es Pasundan rp 7.000,-.


 

Sabtu, 23 Desember 2023

PANTAI BUGEL KABUPATEN KULONPROGO - D.I. YOGYAKARTA

Pantai Bugel terletak di Gumuk Waru, Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta. Pantai Bugel merupakan pantai yang terkenal dengan pasir besinya. Pantai ini masih asri dan berhiaskan pohon cemara yang tumbuh rindang di sekitar kawasan pantai. Suasana pantai Bugel sangatlah cocok untuk para wisatawan yang mencari ketenangan, kedamaian hati dan melepas penat jiwa. Pantai Bugel juga bisa dijadikan referensi wisata bagi para wisatawan yang ingin menikmati indahnya panorama matahari terbit dan tenggelam.


 Dari arah pusat Kota Yogyakarta anda bisa mulai bergerak menuju Jalan Bantul, lalu menuju ke Jalan Srandakan. Ikuti terus Jalan Srandakan hingga melewati jembatan Sungai Progo, ikuti jalan sampai bertemu dengan lampu merah Brosot lalu pilih jalan menuju ke arah Glagah di bagian kiri. Ikuti terus jalan hingga menemukan papan petunjuk arah menuju Pantai Bugel.

Dibandingkan dua pantai lainnya di dekatnya (Pantai Glagah dan pantai Congot), memang Pantai Bugel tidak begitu populer padahal keindahan yang ditawarkan tidak kalah keren. Pantai ini justru tenang dan menjadi tempat yang cocok bagi anda yang ingin merefresh pikiran dari segala bentuk tumpukan pekerjaan. Pantai Bugel menawarkan pemandangan birunya pantai dengan gelombangnya yang besar. Gelombang yang besar memang menjadi salah satu ciri khas pantai di kawasan Kulon Progo. Jadi sangat tidak disarankan untuk mandi atau berenang di pantai. Tapi anda masih bisa bermain air di tepian pantai. Kawasan ini masih cukup alami, kita akan disuguhkan hamparan pasir hitam yang luas. Pasir ini mengandung biji besi sehingga akan berkilauan ketika terkena sinar matahari. Salah satu keunikan dari pantai ini adalah masih terdapat tanaman pantai unik yang biasa menjadi ‘oleh-oleh’ ketika datang ke pantai. Berupa tanaman dengan ujung runcing yang ketika dibakar bisa mengeluarkan suara pletok-pletok. Jika anda berkunjung ke sini anda harus membawanya pulang agar lebih afdol.

Kawasan Pantai Bugel berada di dekat tempat pelelangan ikan, jika beruntung kita bisa melihat nelayan yang pergi melaut atau yang pulang dari melaut. Mungkin kegiatan itu terkesan biasa kita lihat di pantai yang lain, namun sensasi yang berbeda akan kita rasakan ketika melihatnya di Pantai Bugel. Nelayan yang hendak melaut atau hendak kembali ke daratan harus berjuang menerjang ganasnya gelombang laut. Hal itu menjadi pemandangan yang sangat menegangkan. Kita bisa membeli tangkapan ikan nelayan di kawasan tempat pelelangan ikan, tentunya harganya lebi murah dan dijamin kualitas ikan masih sangat segar.


 

Jalanan di kawasan Pantai Bugel sudah beraspal halus dan cocok untuk melakukan kegiatan sepeda sore. Kanan kiri jalan terlihat lahan pertanian yang hijau, semakin ke arah timur kita akan disuguhkan pemandangan pohon cemara yang indah di kanan dan kiri jalan dan rumah penduduk yang unik. Sebagian besar penduduk yang tinggal di dekat Pantai Bugel adalah transmigran sehingga rumah mereka berderet memanjang mengikuti arah jalan dengan bentuk yang nyaris seragam. Bersepeda di Pantai Bugel akan sangat pas jika dilakukan di sore hari sembari menunggu senja di tepian pantai. Dari sini kita bisa menikmati sunset yang indah ditemani angin sore yang semakin memanjakan kita.

 

Jumat, 22 Desember 2023

CANDI SUMBERAWAN SINGOSARI KABUPATEN MALANG - JAWA TIMUR

Candi Sumberawan terletak di Dusun Sumberawan, Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Di lahan ini terdapat sumber mata air yang cukup besar dengan air yang cukup jernih, sehingga sumber air ini dijadikan sumber air bagi beberapa pemenuhan air bersih tidak hanya oleh masyarakat sekitar tetapi juga sampai ke beberapa daerah di Kecamatan Singosari. Candi Sumberawan berbentuk stupa, sehingga banyak pula yang menyebut candi ini dengan nama Stupa Sumberawan, bentuk stupa ini menjadi hal yang istimewa, karena candi berbentuk stupa jarang dijumpai di wilayah Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan riwayatnya Candi Sumberawan pertama kali ditemukan pada tahun 1904 oleh masyarakat, kemudian tahun 1935 Dinas Purbakala Hindia Belanda melakukan pengkajian atas bangunan tersebut dan pada tahun 1937 dipimpin oleh Ir. Van Romondt berhasil dilakukan pemugaran.


 Tidak diketahui dengan pasti kapan Candi Sumberawan didirikan. Menurut para ahli diduga bangunan ini didirikan sekitar abad XIV M, bahkan ada yang menduga bahwa daerah ini dulunya bernama Kasurangganan artinya taman bidadari atau taman surga nimfa (Soekmono 1995) yaitu daerah yang pemah dikunjungi oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 M, ketika pergi ke Singhasari, hal ini diberitakan dalam kitab Negarakertagama karangan Mpu Prapanca yang disebut pada pupuh 35 bait ke 4.

Bentuk bangunan Candi Sumberawan berdenah segi empat dengan ukuran 6,3 m x 6,3 m tinggi 5,56 m, yang terdiri atas tiga bagian, yaitu batur, kaki serta tubuh candi. Bagian puncak stupa sudah runtuh. Batur berbentuk denah segi empat, polos. Kaki stupa terdiri dari 2 tingkatan, yaitu kaki 1 (satu) dan kaki 2 (dua). Kaki 1 (bawah) berdenah segi empat dengan profil pelipit-pelipit pada bagian atas dan bawah, sedangkan bagian tengah berupa bidang datar polos. Profil kaki 2 (dua) mirip dengan kaki 1 (satu), yaitu pelipit-pelipit pada bagian atas dan bawah, sedangkan bagian tengah sisi terdapat bidang panil (kosong tanpa relief). Bangunan suci ini tidak memiliki hiasan atau ukiran dan juga tidak ada tangga naik, sehingga tidak ada akses naik untuk melihat kondisi bagian puncak yang sudah runtuh. Selain itu tidak terdapat ruang yang biasanya digunakan untuk menyimpan reliek (benda-benda suci) seperti stupa pada umumnya, sehingga diduga digunakan hanya untuk pemujaan. Selain keberadaan stupa, BPCB Provinsi Jawa Timur mencataat sebuah lumpang dengan bentuk silindris agak mengembang ke atas, bagian permukaan atas agak cekung dengan lubang berbentuk lingkaran di tengahnya. Bidang sisi luar lumpang berhias penil-panil segiempat dengan hiasan kelopak bunga dan motif palang yunani, yang disusun berselang seling. Bagian atas hiasan panil dan palang yunani terdapat motif flora/sulur-suluran. Lumpang ini berukuran diameter 101 cm dan tinggi 46 cm.


 Upaya pelestarian yang dilakukan terhadap Candi Sumberawan adalah dengan melakukan pencatatan melalui kegiatan inventarisasi, melakukan konservasi secara berkala dan menempatkan juru pelihara. Upaya pelindungan hukum juga sudah dilakukan dengan menetapkan Candi Sumberawan atau Stupa Sumberawan sebagai cagar budaya sejak tahun  2010. (Unit. Dokpub, BPK XI)

ALUN-ALUN KIDUL KOTA YOGYAKARTA - D.I. YOGYAKARTA

Alun-alun Kidul atau Alun-alun Selatan Kota Yogyakarta berada di sisi selatan keraton Yogyakarta. Bagian ini merupakan halaman belakang dari keraton Yogyakarta. Alun-alun ini bukan hanya memiliki lapangan namun juga sejumlah panorama menarik lainnya.

 Selain dijadikan sebagai tempat masyarakat untuk beraktivitas, kawasan alun-alun Kidul juga menjadi pilihan wisata yang sangat menarik. Terutama di sore hingga malam hari. Di kawasan ini, Anda akan bisa mendapati sejumlah panorama wisata yang cukup menarik untuk dinikmati.


Beberapa rekomendasi aktivitas wisata yang cukup terkenal di kawasan alun-alun kidul atau yang dikenal dengan sebutan alkid ini.

  1. Melakukan Permainan Masangin

Salah satu aktivitas yang sangat terkenal di kawasan alun-alun selatan Jogja ini adalah permainan masangin. Seperti sudah menjadi tradisi, permainan ini menjadi daya tarik tersendiri dan banyak membuat para wisatawan yang tertarik untuk mencobanya.

Perlu Anda ketahui bahwa dikawasa alkid ini terdapat sepasang pohon beringin (beringin kembar) yang sudah berusia cukup tua. Diantara pohon beringin inilah permainan masangin dilakukan.

Untuk melakukan permainan masangin ini cukup sederhana. Anda hanya perlu menutup mata dengan kain penutup lalu berjalan lurus sekitar 20 meter dari Sasono Hinggil menuju ke bagian tengah-tengah ringin kurung (sepasang pohon beringin yang berada di alun-alun selatan).

Meski terlihat sederhana dan mudah, namun nyatanya tidak banyak yang berhasil sampai melewati bagian tengah-tengah diantara dua pohon beringin tersebut. Banyak orang yang justru berputar-putar dan melenceng jauh ke berbagai arah dari tujuan yang sebenarnya.

Banyak mitos yang beredar di kawasan alun-alun kidul ini bahwa orang yang benar-benar berhati bersih dan lurus yang bisa tepat berjalan melewati jalan diantara dua pohon beringin tersebut.

Jika Anda tengah berkunjung ke Jogja, jangan lupa untuk menyempatkan berkunjung ke alun-alun selatan dan mencoba tradisi permainan yang cukup unik dan menarik ini.


  1. Menyewa Sepeda Tandem Dan Odong-odong

Jika siang hari, mungkin tempat ini akan terasa kurang begitu menarik karena tidak banyak aktivitas yang bisa dilakukan. Namun menjelang sore dan malam hari, tempat ini menjadi semakin menarik karena memiliki kerlap-kerlip yang cahaya yang berwarna-warni.

Kilauan cahaya tersebut berasal dari sepeda tandem, mobil-mobilan sepeda, dan juga odong-odong yang tersedia di kawasan alun-alun selatan tersebut. Sepeda tandem dan juga odong-odong ini menjadi objek favorit para pengunjung yang berada di kawasan Alkid.

Anda bisa menyewa odong-odong maupun sepeda tandem tersebut untuk berkeliling kawasan alkid. Odong-odong penuh lampu tersebut mampu menampung hingga 6 orang sehingga Anda bisa menyewa secara bersama-sama untuk menghemat pengeluaran.

Menggunakan kendaraan tersebut, Anda bisa menikmati syahdunya suasana di sekitar alun-alun sembari berolahraga malam karena Anda harus menggowes pedal untuk menjalankan kendaraan sepeda yang Anda sewa tersebut.

  1. Bersantai Sembari Menyantap Kuliner di Alun-alun

Aktivitas berikutnya yang bisa Anda lakukan di kawasan alun-alun kidul ini adalah duduk santai sembari menyantap kuliner di alun-alun. Ketika perut lapar sehabis menyewa odong-odong, bersantap kuliner khas Jogja tentunya adalah pilihan yang sangat tepat untuk dilakukan.

BATU ALIEN KABUPATEN SLEMAN - D.I. YOGYAKARTA

Batu Alien berada di Dusun Jambu Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman  Daerah Istimewa Yogyakarta. Untuk bisa sampai ke tempat tujuan, Anda mesti menempih jarak kurang lebih 28 km di pusat kota. Anda bisa menggunakan kendaraan dan waktu tempuhnya sekitar 60 menit perjalanan.

Batu Alien merupakan batu yang terlempar dari perut Merapi yang erupsi pada tahun 2010. Batu besar tersebut awalnya hanya nampak seperti batu vulkanik biasa. Namun ketika kita mendekat, dari sudut pandang tertentu batu tersebut mirip makhluk planet Alien.

Batu tersebut terbawa lahar panas melalui sungai Gendol yang letaknya hanya beberapa meter dari lokasi Batu Alien.



Rabu, 20 Desember 2023

PANTAI LOVINA KABUPATEN BULELENG - BALI

Pantai Lovina merupakan salah satu kawasan wisata laut yang terdapat di bagian utara Pulau Bali. Pantai yang terletak di Lovina di daerah Bali Utara ini memang menarik karena masih relatif alami. Salah satu keunikan di pantai ini adalah Anda bisa menyaksikan aksi lumba-lumba liar yang terdapat di laut. Pantai Lovina terletak di Bali Utara di pesisir utara Pulau Bali tepatnya sekitar 10 km arah barat Singaraja. Pantai Lovina berada di Desa Kalibukbuk, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng, Bali. Karena itu, kadang orang menyebutnya sebagai kawasan wisata Kalibukbuk.


Pantai Lovina yang berpasir hitam ini masih alami sehingga menarik dikunjungi. Yang menarik di Pantai Lovina adalah perjalanan ke tengah laut di perairan Lovina. Anda dapat menjumpai lumba-lumba di perairan Lovina yang terletak sekitar 1 kilometer dari bibir pantai. Laut Bali yang berada di perairan Lovina relatif tenang sehingga Anda bisa berwisata di laut tersebut dengan menggunakan perahu nelayan.

Kawasan Lovina terkenal terkenal sebagai tempat untuk menyaksikan pertunjukkan lumba-lumba liar. Anda dapat langsung menyaksikan tingkah laku yang lucu dan bersahabat dari lumba-lumba langsung di tengah laut. Tentu ini akan menjadi pengalaman liburan yang menarik untuk Anda. Di kawasan Lovina terdapat ratusan ekor lumba-lumba.

Untuk bisa melihat atraksi lumba-lumba liar, Anda harus berangkat pagi sekali saat matahari akan terbit. Mengapa? Karena lumba-lumba di kawasan ini hanya muncul antara pukul 6 pagi hingga 8 pagi. Pada jam itu, puluhan lumba-lumba akan beratraksi secara alami menunjukkan kegiatan mereka. Ada yang sekadar berenang di permukaan air, ada juga yang melompat-lompat. Tentu hal ini akan membuat takjub akan keindahan binatang laut berwarna hitam tersebut.


Biasanya para wisatawan sudah berkumpul di pantai sekitar pukul 5.30 WITA untuk berangkat ke tengah laut. Anda bisa menyewa perahu nelayan yang memang disediakan untuk perjalanan tersebut. Perjalanan dimulai dengan menggunakan perahu kecil yang hanya bisa mengangkut maksimal 4 orang selain sang nelayan. Perahu akan membawa Anda sekitar satu hingga dua kilometer ke arah tengah laut ke tempat biasanya lumba-lumba akan muncul.

Selama perjalanan, Anda bisa melihat-lihat pemandangan laut yang luas dan seraya perahu menjauhi daratan, Anda bisa melihat daratan Lovina dari kejauhan seperti siluet. Setelah sampai di tengah laut, sang nelayan akan menyusuri ke tempat biasanya lumba-lumba akan muncul. Dan apabila ada sekelompok lumba-lumba yang melompat, sang nelayan akan memberitahu perahu-perahu lain di sekitarnya sehingga perahu-perahu tersebut akan menambah kecepatan untuk mengejar sekelompok lumba-lumba itu.

Tentu anda dapat merekam sewaktu lumba-lumba tersebut berlompatan di tengah laut. Ada juga para wisatawan yang tidak bisa melihat lumba-lumba tersebut. Hal ini tergantung dari faktor alam juga seperti pasangnya air laut, arah angin, dan tentu saja keberuntungan anda untuk dapat melihat lumba-lumba liar tersebut. "Pengejaran" ini akan berlangsung kira-kira 3 jam. Namun, apabila Anda sudah merasa mual karena mabuk laut Anda tidak perlu ragu ragu untuk memberitahu sang nelayan untuk kembali ke daratan.

Seraya perjalanan kembali ke daratan, Anda bisa menikmati pemandangan sepanjang pantai Lovina dengan jelas karena matahari sudah bersinar dengan terangnya. Anda juga dapat menikmati wisata taman laut di perairan Lovina.



    Taman Laut Lovina

Di kawasan Lovina, Anda juga dapat menyelam atau snorkeling untuk menikmati keindahan laut di pantai tersebut. Anda dapat menjumpai beragam ikan hias yang cukup ramah untuk mendatangi para penyelam. Memang taman laut di Lovina tidak seindah taman laut lainnya di Indonesia. Namun, Anda akan cukup senang bermain-main dengan ikan hias di perairan ini.

Di pinggir pantai, Anda juga dapat menemukan berbagai kulit kerang yang beraneka ragam. Tentu Anda bisa mengambilnya untuk koleksi hiasan dan cindera mata yang alami dan menarik.

Di kawasan Lovina terdapat banyak penginapan dengan harga terjangkau. Ada juga penginapan yang menyediakan atraksi lumba-lumba yang terlatih maupun kebun binatang mini di dalam penginapan tersebut. Anda bisa memilih berbagai penginapan dari penginapan sederhana hingga cottage.

Dari Denpasar ke Lovina, Anda bisa melewati Bedugul lalu ke Singaraja dan menuju Lovina. Anda juga bisa melewati rute Bedugul lalu Seririt dan ke Lovina. Anda bisa menempuh perjalanan melewati kedua rute tadi sekitar 2 jam perjalanan. Namun, rutenya melewati jalur yang naik-turun dan berkelok-kelok. Rute lain adalah melewati Gilimanuk lalu ke Lovina yang bisa ditempuh dalam waktu hampir 4 jam. Jalur ini relatif lurus dan nyaman meski membutuhkan waktu perjalanan yang lebih lama.

Pantai Lovina tentu bisa menjadi tujuan wisata Anda. Banyak hal menarik yang bisa Anda temui di sini seperti melihat pertunjukkan lumba-lumba liar di tengah laut, maupun taman laut dengan beragam ikan hias. Apalagi jika Anda sedang mengunjungi kawasan Singaraja, maka sempatkan diri Anda mampir ke Lovina dan menginap setidaknya satu hari di sana untuk menyaksikkan atraksi lumba-lumba pada pagi-pagi sekali.



Kamis, 16 November 2023

MASJID CHENG HOO SEMPUSARI KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR

Masjid Muhammamd Cheng Hoo Jember terletak di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates Kabupaten Jember sekitar 5 km sebelah barat Alun-alun Jember. Lokasinya berada tepat di belakang Kantor Kelurahan Sempusari. Pembangunan masjid Cheng Hoo dilakukan pada tahun 2011, yakni ditandai dengan peletakan batu pertama. Proses pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar empat tahun. Masjid Cheng Ho baru diresmikan pada 2015. Sekarang, tempat ini selalu dikunjungi oleh masyarakat untuk mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian, belajar Alquran, shalat berjemaah dan lainnya.


JEMBER, KOMPAS.com – Para Muslim Tionghoa di Jember memiliki wadah tersendiri untuk belajar agama Islam. Mereka tergabung dalam Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember. Kegiatan mereka terpusat di Masjid Muhammad Chengho Jember . Di sana, mereka rutin menggelar pengajian, belajar membaca Al Quran, shalat subuh berjemaah hingga menggelar kegiatan bakti sosial. Bahkan, saat hari raya Imlek, mereka memiliki cara tersendiri untuk merayakannya, seperti khataman Al Quran hingga pertunjukan barongsai. Baca juga: Warga Tionghoa Berikan Paket Ramadhan untuk 2.140 Kaum Duafa di Aceh Lokasi Masjid Chengho terletak di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates. Mendatangi masjid ini, pengunjung disajikan dengan gaya bangunan dengan arsitektur khas Tionghoa, seperti warna masjid yang didominasi merah. Selain itu, juga ada hiasan lampion, kaligrafi, papan tulisan tionghoa serta atap yang melengkung. Masjid ini kerap menjadi tempat swafoto generasi milenial yang melaksanakan ibadah disana. HM. Lauw Song Tjai, Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember menjelaskan cikal bakal berdirinya Masjid Cheng Ho tersebut. “Sebelum terbentuk organisasi, teman-teman Muslim Tionghoa berpindah-pindah kegiatannya,” kata dia pada Kompas.com Minggu (2/5/2021). Baca juga: Mengenal Kampung Kapitan, Tempat Keturunan Tionghoa Pertama di Palembang Menurut dia, organisasi PITI baru berdiri sekitar 1980-an. Saat itu, kegiatannya hanya sebatas berkunjung ke sesama Muslim Tionghoa dari rumah ke rumah, seperti pada saat perayaan Idul Fitri. Seiring perkembangan zaman, anggota PITI Jember tersebut bertambah. Bahkan, jumlahnya sudah mencapai ratusan. Mereka butuh wadah tempat berkumpul, terutama dalam belajar dan meningkatkan pemahaman ilmu agama Islam. Akhirnya, salah satu sahabat Song Tjai di Surabaya, yakni Liu Ming Yen atau Bambang Suyanto, memintanya untuk mendirikan mendirikan masjid. “Saat itulah, saya meminta sumbangan dana pada pengusaha, di Jakarta, Semarang, Kudus hingga Samarinda,” ucapnya. Baca juga: Asal Usul Pulau Kemaro, Kisah Legenda Cinta Siti Fatimah dengan Putra Raja Tionghoa Pembangunan masjid Cheng Ho dilakukan pada 2011, yakni ditandai dengan peletakan batu pertama. Proses pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar empat tahun. Masjid Cheng Ho baru diresmikan pada 2015. Sekarang, tempat ini selalu dikunjungi oleh masyarakat untuk mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian, belajar alquran, shalat berjemaah dan lainnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Masjid Cheng Ho Jember, Wadah Muslim Tionghoa Belajar Agama", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2021/05/02/153041178/mengenal-masjid-cheng-ho-jember-wadah-muslim-tionghoa-belajar-agama?page=all.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Lokasi Masjid Chengho terletak di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates. Mendatangi masjid ini, pengunjung disajikan dengan gaya bangunan dengan arsitektur khas Tionghoa, seperti warna masjid yang didominasi merah. Selain itu, juga ada hiasan lampion, kaligrafi, papan tulisan tionghoa serta atap yang melengkung. Masjid ini kerap menjadi tempat swafoto generasi milenial yang melaksanakan ibadah disana. HM. Lauw Song Tjai, Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember menjelaskan cikal bakal berdirinya Masjid Cheng Ho tersebut. “Sebelum terbentuk organisasi, teman-teman Muslim Tionghoa berpindah-pindah kegiatannya,” kata dia pada Kompas.com Minggu (2/5/2021). Baca juga: Mengenal Kampung Kapitan, Tempat Keturunan Tionghoa Pertama di Palembang Menurut dia, organisasi PITI baru berdiri sekitar 1980-an. Saat itu, kegiatannya hanya sebatas berkunjung ke sesama Muslim Tionghoa dari rumah ke rumah, seperti pada saat perayaan Idul Fitri. Seiring perkembangan zaman, anggota PITI Jember tersebut bertambah. Bahkan, jumlahnya sudah mencapai ratusan. Mereka butuh wadah tempat berkumpul, terutama dalam belajar dan meningkatkan pemahaman ilmu agama Islam. Akhirnya, salah satu sahabat Song Tjai di Surabaya, yakni Liu Ming Yen atau Bambang Suyanto, memintanya untuk mendirikan mendirikan masjid. “Saat itulah, saya meminta sumbangan dana pada pengusaha, di Jakarta, Semarang, Kudus hingga Samarinda,” ucapnya. Baca juga: Asal Usul Pulau Kemaro, Kisah Legenda Cinta Siti Fatimah dengan Putra Raja Tionghoa Pembangunan masjid Cheng Ho dilakukan pada 2011, yakni ditandai dengan peletakan batu pertama. Proses pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar empat tahun. Masjid Cheng Ho baru diresmikan pada 2015. Sekarang, tempat ini selalu dikunjungi oleh masyarakat untuk mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian, belajar alquran, shalat berjemaah dan lainnya. Menjadi simbol keberagaman dan toleransi warga Jember Kehadiran Masjid Cheng Ho menjadi simbol kerukunan umat beragama di Jember. Warga bisa saling menghormati meskipun memiliki keyakinan dan budaya yang berbeda.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Masjid Cheng Ho Jember, Wadah Muslim Tionghoa Belajar Agama", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2021/05/02/153041178/mengenal-masjid-cheng-ho-jember-wadah-muslim-tionghoa-belajar-agama?page=all.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6
Lokasi Masjid Chengho terletak di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates. Mendatangi masjid ini, pengunjung disajikan dengan gaya bangunan dengan arsitektur khas Tionghoa, seperti warna masjid yang didominasi merah. Selain itu, juga ada hiasan lampion, kaligrafi, papan tulisan tionghoa serta atap yang melengkung. Masjid ini kerap menjadi tempat swafoto generasi milenial yang melaksanakan ibadah disana. HM. Lauw Song Tjai, Pembina Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jember menjelaskan cikal bakal berdirinya Masjid Cheng Ho tersebut. “Sebelum terbentuk organisasi, teman-teman Muslim Tionghoa berpindah-pindah kegiatannya,” kata dia pada Kompas.com Minggu (2/5/2021). Baca juga: Mengenal Kampung Kapitan, Tempat Keturunan Tionghoa Pertama di Palembang Menurut dia, organisasi PITI baru berdiri sekitar 1980-an. Saat itu, kegiatannya hanya sebatas berkunjung ke sesama Muslim Tionghoa dari rumah ke rumah, seperti pada saat perayaan Idul Fitri. Seiring perkembangan zaman, anggota PITI Jember tersebut bertambah. Bahkan, jumlahnya sudah mencapai ratusan. Mereka butuh wadah tempat berkumpul, terutama dalam belajar dan meningkatkan pemahaman ilmu agama Islam. Akhirnya, salah satu sahabat Song Tjai di Surabaya, yakni Liu Ming Yen atau Bambang Suyanto, memintanya untuk mendirikan mendirikan masjid. “Saat itulah, saya meminta sumbangan dana pada pengusaha, di Jakarta, Semarang, Kudus hingga Samarinda,” ucapnya. Baca juga: Asal Usul Pulau Kemaro, Kisah Legenda Cinta Siti Fatimah dengan Putra Raja Tionghoa Pembangunan masjid Cheng Ho dilakukan pada 2011, yakni ditandai dengan peletakan batu pertama. Proses pembangunan masjid ini membutuhkan waktu yang cukup lama, sekitar empat tahun. Masjid Cheng Ho baru diresmikan pada 2015. Sekarang, tempat ini selalu dikunjungi oleh masyarakat untuk mengikuti berbagai kegiatan. Mulai dari pengajian, belajar alquran, shalat berjemaah dan lainnya. Menjadi simbol keberagaman dan toleransi warga Jember Kehadiran Masjid Cheng Ho menjadi simbol kerukunan umat beragama di Jember. Warga bisa saling menghormati meskipun memiliki keyakinan dan budaya yang berbeda.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Mengenal Masjid Cheng Ho Jember, Wadah Muslim Tionghoa Belajar Agama", Klik untuk baca: https://regional.kompas.com/read/2021/05/02/153041178/mengenal-masjid-cheng-ho-jember-wadah-muslim-tionghoa-belajar-agama?page=all.


Kompascom+ baca berita tanpa iklan: https://kmp.im/plus6
Download aplikasi: https://kmp.im/app6

Rabu, 15 November 2023

PANTAI NGUYAHAN KABUPATEN GUNUNGKIDUL - D.I. YOGYAKARTA

Pantai Nguyahan terletak di Desa Kanigoro, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Tepatnya di sebelah barat Pantai Ngobaran. Dari pusat Kota Yogyakarta kita bisa menuju ke arah Piyungan, lalu kemudian terus berjalan hingga sampai ke Playen, Paliyan, Pasar Trowono, Kanigoro, lalu ikuti petunjuk ke arah pantai Ngobaran. Pantai Nguyahan terletak di sebelah Pantai Ngobaran.

 

Akses menuju Pantai Nguyahan cukup mudah, bisa dilalui kendaarn roda dua maupun roda empat. Pantai ini memang belum lama dikembangkan sebagai destinasi wisata baru jadi wajar jika anda masih belum familiar dengan namanya. Namun pembangunan di sini sangat pesat. Fasilitas yang disediakan sudah cukup lengkap. Area parkir yang luas, toilet umum, mushola, dan tentunya deretan kios pedagang.

Lokasi Pantai Nguyahan dan Pantai Ngobaran sangat dekat. Hanya berjarak sekitar 200 meter saja. Pengunjung diberi pilihan untuk parkir di kawasan Pantai Ngobaran atau di Pantai Nguyahan. Walaupun berdekatan dengan Pantai Ngobaran, tetapi Pantai Nguyahan memiliki pesonanya tersendiri sehingga sangat sayang jika anda melewatkan pantai ini ketika berlibur di Gunungkidul.


 Salah satu keunggulan dari pantai ini adalah pantainya yang landai dan masih bersih. Belum banyaknya wisatawan yang datang membuat Pantai Nguyahan seperti surga yang masih tersembunyi keindahannya. Pengelola pantai juga nampaknya sangat menyadari betul pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pantai terlihat dari tong-tong sampah yang disediakan.

Asal usul nama Nguyahan tentu bukan tanpa alasan. Dahulu kata ketika Belanda masih menjajah Indonesia kawasan Pantai Nguyahan ini memang dikenal sebagai kawasan penghasil garam. Itulah sebabnya Pantai ini disebut dengan Pantai Nguyahan yang berasal dari kata “uyah” yang dalam Bahasa Indonesia berarti garam.


 Di obyek wisata pantai satu ini pengunjung bisa berenang dan bermain pasir di pantai. Pantai ini memiliki karang-karang indah yang menjadi tempat tinggal ikan-ikan kecil beraneka warna. Mengamati binatang laut yang lucu menjadi aktivitas menyenangkan yang boleh anda coba di sini. Apalagi kawasan ini masih sepi wisatawan jadi suasananya masih asri dan belum banyak terkena campur tangan manusia. Hal menarik lain di Pantai Nguyahan adalah rumput lautnya. Biasanya rumput laut ini dipanen warga dan dijadikan sebagai olahan hasil laut yang cocok untuk dijadikan oleh-oleh. Soal rasa tentu rumput laut di sini bisa diadu dengan rumput laut di pantai-pantai terkenal lain.

Keindahan Pantai Nguyahan yang tak kalah dari pantai lainnya adalah sunsetnya, Langit Pantai Nguyahan perlahan akan berubah menjadi oranye kemerahan membuat siapapun yang melihatnya takjub. Di pantai ini anda akan merasakan suasana senja yang sangat tenang dan teduh karena belum banyaknya wisatawan yang datang. Tentu momen seperti ini sangat jarang anda jumpai di pantai lain bukan? Lantai karang menjadi salah satu spot terbaik untuk menikmati senja di Pantai Nguyahan. Pastikan bawa kamera anda karena keindahan sunsetnya terlalu sayang untuk tidak diabadikan.

MASJID SULTHONI WOTGALEH KABUPATEN SLEMAN - D.I. YOGYAKARTA

Masjid Sulthoni Wotgaleh merupakan masjid milik Kraton Yogyakarta terletak di Padukuhan Wotgaleh, Noyokerten, Kalurahan Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman sekitar 8 km timur pusat kota Yogyakarta. Masjid Suthoni Wotgaleh merupakan Bangunan Cagar Budaya oleh Bupati Kabupaten Sleman. Masjid Sulthoni Wotgaleh dibangun sekitar tahun 1600 Masehi, seiring dengan keberadaan makam Hastono Wotgaleh, yaitu makam Panembahan Purubaya I, yang lebih terkenal dengan sebutan Banteng Mataram, karena keberaniaan dan ketangguhan dalam berperang dan pernah menyerbu Batavia. Selain makam Panembahan Purubaya I, juga dimakamkan Panembahan Purubaya II, Panembahan Purubaya III.  Wotgaleh berasal dari kata wot yang berarti jembatan, menyeberangi atau meniti, dan galeh atau galih berarti hati, sehingga wotgaleh berarti tempat bagi orang-orang yang ingin menguatkan hatai dalam mencapai kesabaran lahir dan batin.


 Masjid Sulthoni Wotgaleh selain berfungsi untuk keagamaan (Islam) juga berfungsi sebagai tempat pertahanan rakyat. Pada waktu didirikan bangunan makam dan masjid, berada di tengah-tengah pemukiman warga. Namun pada masa penjajahan Jepang diadakan pelebaran wilayah bandara, sehingga rumah-rumah penduduk dipindahkan ke tempat lain. Sekeliling masjid-makam sekarang merupakan tanah TNI AU yang ditanami tebu.


 Masjid Sulthoni Wotgaleh merupakan masjid yang berada dalam satu komplek dengan makam yang disebut Hastono Wotgaleh, yaitu makam Panembahan Puruboyo I (putra Panembahan Senopati dari Mataram Islam). Seperti umumnya bangunan masjid di Jawa menggunakan atap berbentuk Tajug. Dari ciri-ciri yang ada merupakan tipe Tajug Lawakan Lambang Teplok, yaitu bangunan dengan atap tajug di bagian tengah dan mempunyai atap pananggap di keempat sisinya. Bagian atas atap pananggap terdapat blandar lumajang yang menempel pada sunduk-kili pamidhangan atau sakaguru. Di samping kiri dan kanan ruang utama masjid terdapat ruang yang disebut Pawestren(untuk sholat perempuan) dan ruangan untuk takmir masjid. Di bagian depan terdapat serambi berbentuk Limasan dengan tiang atau saka utama berjumalah 8 (delapan) buah, di bagian luarnya terdapat atap emper. Di serambi masih ada bedug lama, sebagai sumber bunyi untuk menandakan waktu sholat sebelum adanya pengeras suara.

Minggu, 12 November 2023

CANDI NGAWEN KABUPATEN MAGELANG - JAWA TENGAH

Candhi ini berada di desa Ngawen kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang sekitar 5 km ke arah tenggara dari candi Mendut sebelah kiri jalan ke rute Sendangsono. Candi ini dibangun pada abad ke 8 oleh dinasti Syailendra seperti dalam Prasasti Karang Tengah tahun 824 M.

 Candi Ngawen memiliki 5 buah candi kecil yang setiap sudutnya dihiasi oleh patung singa penjaga candi dan wihara Pangeran Sidharta menunggu nirwana. Relief candi Ngawen masih jelas terukir indah tentang Kinara-Kinari ( sang penghibur Dewa di Kahyangan ), Kalamakara ( Dewa Waktu )  dan D hyani Budha Ratnasambhawa dengan sikap tangan Wara Mudra ( Budha memberi berkah).

 

Kamis, 02 November 2023

CANDI IJO KABUPATEN SLEMAN - D.I. YOGYAKARTA

Candi Ijo terletak di kecamatan Prambanan Kabupaten Sleman Yogyakarta, sekitar 20 km sebelah timur kota Yogyakarta. Candi ini dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Candi Ijo ini merupakan candi yang tertinggi di DIY dari atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.


 Kompleks candi Ijo terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras kesatu sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi perwara. Peletakan bangunan pada tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan pada teras tertinggi adalah yang paling sakral.

Tepat di atas pintu masuk candi Ijo  terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Motif kepala ganda dan atributnya yang juga bisa dijumpai pada candi Buddha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha. Beberapa candi yang memiliki motif kala makara serupa antara lain Ngawen, Plaosan dan Sari.


 Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang melayang dan mengarah pada sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mngusir roh jahat dan kedua sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda dengan arca di Candi Prambanan, corak naturalis pada arca di Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme.

Menuju bangunan candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu.


 Salah satu karya yang menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak di bangunan candi pada teras ke-9. Salah satu prasasti yang diberi kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan diantaranya yang terbaca adalah "Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa." Bisa jadi, kedua prasasti tersebut erat dengan terjadinya peristiwa tertentu di Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak.

Mengunjungi candi ini, anda bisa menjumpai pemandangan indah yang tak akan bisa dijumpai di candi lain. Bila menghadap ke arah barat dan memandang ke bawah, anda bisa melihat pesawat take off dan landing di Bandara Adisutjipto. Pemandangan itu bisa dijumpai karena Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi di pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.


 Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya.

Selasa, 31 Oktober 2023

PANTAI KUTA MANDALIKA KABUPATEN LOMBOK TENGAH - NUSA TENGGARA BARAT

Pantai Kuta Mandalika berada di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memiliki keindahan yang alami. Mandalika dikenal dengan wisata pantai dan laut yang cantik karena wilayahya berada tepat menghadap ke Samudera Hindia. Selain terkenal dengan wisata pantainya, Mandalika juga memiliki kekayaan budaya, kesenian dan situs-situs wisata bertaraf internasional. Pantai Kuta Mandalika terletak sekitar 47 km dari kota Mataram ke arah tenggara.



Terdapat festival dan event di Mandalika seperti Pesta Bau Nyale, Festival Muharram dan Lombok Sumbawa Cultural. Seperti di daerah yang lainnya di Indonesia, kuliner yang terdapat disana sangat banyak dan cukup beragam. Wisatawan dapat menikmati Bebalung, Sate Tanjung, Sate Rembiga, Sate Bulayak, Ares dan masih banyak kuliner yang lainnya.

 

Minggu, 29 Oktober 2023

DESA LABUAN TERENG KABUPATEN LOMBOK BARAT - NUSA TENGGARA BARAT

Labuan Tereng merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Lembar, kabupaten Lombok Barat, provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Desa merupakan satu dari 5 desa dan kelurahan yang berada di kecamatan Lembar. Desa ini memiliki kodepos 83364.

Desa ini memiliki jumlah penduduknya sebagian besar bersuku daerah Sasak. Terletak di bagian barat pulau Lombok

 



Sabtu, 14 Oktober 2023

SIRKUIT MANDALIKA KABUPATEN LOMBOK TENGAH - NUSA TENGGARA BARAT

Sirkuit Mandalika di Lombok Tengah Lombok, adalah sirkuit jalanan balap internasional yang dibangun untuk menjadi tuan rumah balap motor kelas dunia  di Mandalika. Kawasan hiburan dan olahraga yang terintegrasi di tengah sirkuit akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang datang ke MotoGP. Lokasi Sirkuit Mandalika terletak sekitar 47 km tenggara kota Mataram.

Untuk menuju lokasi Sirkuit Mandalika sangat mudah. Jika ditempuh dari kota Mataram maka pilih ke arah selatan melalui by pass langsung sampai ke lokasi sirkuit. Jalannya sangat bagus dari sepi melalui jalan bypass yang pemandangannya sangat indah karena menjelang lokasi maka di kiri kanan jalan disuguhkan dengan bukit-bukit.

Jumat, 06 Oktober 2023

SITUS PETILASAN KI AGENG MANGIR KABUPATEN BANTUL - D.I. YOGYAKARTA

Petilasan Ki Ageng Mangir merupakan cagar budaya yang masih belum dikenal dengan baik oleh khalayak umum. Berawal dari tanah bebas upeti dan pajak (perdikan) yang dipimpin oleh Ki Ageng Mangir dan keturunannya, kini Petilasan Ki Ageng Mangir menjadi objek wisata yang indah dengan suasana pedesaan yang nyaman.


Ki Ageng Mangir adalah ikon dari tempat wisata ini. Merupakan keturunan dari silsilah raja Majapahit, Ki Ageng Mangir menjaga daerah ini selama ratusan tahun dari penguasaan Kerajaan Mataram Islam. Perbedaan kepercayaan adalah akar permasalahannya. Walau Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram Islam mencoba sekeras apapun, kesaktian dari Ki Ageng Mangir membuatnya gagal dan gagal menaklukan tanah ini.

Petilasan Ki Ageng Mangir terletak di Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta sekitar 18 km dari pusat kota Yogyakarta. Wisata ini dapat ditempuh sekitar 1 jam dari pusat kota Yogyakarta, sehubungan dengan lokasinya yang masih jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang penat.

 

Tempat wisata ini telah ada sejak tahun 1900-an, namun belum terawat dengan baik. Hingga pada suatu saat ketika seseorang bernama Mbah Bali turun tangan untuk mengelola lokasi wisata ini. Tempat wisata ini juga diminati pendatang karena suasana yang sangat nyaman untuk melepas rasa penat. Kesejukan pepohonan yang rindang membuat angin yang berhembus terasa segar. Hampir semua Presiden Republik Indonesia pun pernah berkunjung setidaknya sekali dalam periode menjabatnya.

PANTAI PANDAWA KABUPATEN BADUNG - BALI

Pantai Pandawa terletak sekitar 28 km sebelah selatan pusat kota Denpasar provinsi Bali. Pantai Pandawa adalah salah satu tempat wisata di area Kuta selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa dan Kunti. Keenam patung tersebut secarara berurutan (dari posisi tertinggi) diberi penejasan nama Dewi Kunti, Dharna Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

 


Selain untuk tujuan wisata dan olahraga air, pantai ini juga dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut karena kontur pantai yang landai dan ombak yang tidak sampai ke garis pantai. Cukup banyak wisatawan yang melakukan paralayang dari Bukit Timbis hingga ke Pantai Pandawa.


ALUN-ALUN KABUPATEN TULUNGAGUNG - JAWA TIMUR

Alun-alun Kabupaten Tulungagung, atau yang dikenal dengan sebutan “Taman Aloon-aloon" merupakan ikon dari Kabupaten Tulungagung. Taman...