Rabu, 04 Februari 2026

MONUMEN BEDOL DESA WADUK GAJAH MUNGKUR KABUPATEN WONOGIRI - JAWA TENGAH

Waduk Gajah Mungkur di kabupaten Wonogiri ternyata dalam pembangunannya menyimpan sejarah penuh dengan keharuan. Pasalnya dalam pembangunannya membutuhkan banyak pengorbanan. Salah satunya adalah harus memindahkan lebih dari 68 ribu penduduk Wonogiri ke pulau Sumatra. Atas jasa besar penduduk dalam berkorban itu, Pemerintah Kabupaten Wonogiri kemudian mendirikan sebuah monumen bernama Monumen Bedol Desa.

Monumen Bedol Desa ini terletak di sisi kanan intake (pintu air) Waduk Gajah Mungkur. Berupa bangunan sejumlah patung dengan tinggi antara dua hingga tiga meter. Patung ini menggambarkan sebuah keluarga lengkap yang terdiri atas ayah, ibu, dan dua orang anak, satu laki-laki dan satu perempuan. Keempatnya tampak menghadap ke arah barat laut dan melambaikan tangan ke belakang ke sisi waduk. Ini seakan melukiskan perpisahan dari desa asalnya untuk menuju ke tempat transmigrasi.  Sedangkan pada bagian bawah monumen, terdapat relief yang menceritakan awal mula berdirinya waduk hingga pembangunan dan proses transmigrasi.

Sedikit menceritakan pembangunan Waduk Gajah Mungkur memakan waktu selama lima tahun. Terhitung sejak 1976 hingga 1981. Waduk ini dibuat dengan fungsi utama sebagai pengendali banjir sungai Bengawan Solo. Sebab, sebelumnya sering terjadi banjir yang disebabkan limpahan air dengan volume besar di aliran Bengawan Solo yang kerap menimbulkan kerugian tidak sedikit.

Luas genangan Waduk Gajah Mungkur lebih dari 8.800 hektar. Untuk membentuk genanagan seluas itu daerah yang harus “ditenggelamkan“ sekitar 90 kilometer persegi. Terdiri atas 51 desa di 7 buah kecamatan waktu itu. Sedangkan total penduduk yang sebelumnya menempati desa tersebut adalah 12.525 KK atau 68.778 jiwa. Lantaran ada pembangunan waduk dengan tujuan kemanusiaan itu, praktis penduduk tadi secara sukarela meninggalkan daerah asalnya untuk menuju lokasi baru yang tersebar di berbagai daerah di pulau Sumatera.

Lokasi tujuan para transmigran diantaranya Sitiung (Provinsi Sumatera Barat), Jujuhan, Rimbo Bujang dan Alai Ilir, serta Peminang di Provinsi Jambi. Selanjutnya Air Lais, Sebelar, Katahun, Ipuh (Provinsi Bengkulu) dan Panggang, Baturaja (Propinsi Sumatera Selatan). Perpindahan penduduk dengan pola transmigrasi tadi disebut Bedol Desa. Lantaran seluruh penduduk tanpa terkecuali harus meninggalkan daerahnya.

PATUNG MACAN PUTIH BALONGJERUK KABUPATEN KEDIRI - JAWA TIMUR

Patung Macan Putih di desa Balongjeruk kecamatan Kunjang kabupaten Kediri Jawa Timur bukan sekadar karya seni biasa. Monumen ini lahir dari hasil musyawarah desa yang melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan pemuda. Nama Macan Putih sendiri diambil dari cerita legenda lokal yang telah lama hidup dalam tradisi lisan warga. Dalam cerita turun-temurun masyarakat Balongjeruk, Macan Putih dipercaya sebagai simbol penjaga atau danyang yang melindungi desa dari mara bahaya.

 Kerja fisik patung ini dilakukan oleh seorang seniman lokal bernama Suwari, yang telah berkecimpung dalam pembuatan patung sejak era 1980-an. Ia menyatakan bahwa pengalaman mimpi terkait figur Macan Putih menjadi inspirasi batin sebelum ia mulai pengerjaan. Seluruh proses pembuatan dilakukan sendiri selama kurun sekitar 19 hari. Meskipun hasilnya menuai beragam reaksi, Suwari tetap memandang karya itu sebagai bagian dari budaya dan identitas lokal yang kaya makna.

Begitu foto dan video patung Macan Putih beredar di platform seperti TikTok dan Instagram, respons warganet langsung deras mengalir. Banyak yang menilai wujud patung itu tidak sesuai dengan bentuk harimau pada umumnya. Sejumlah komentar jenaka bahkan membandingkan patung dengan zebra atau kuda nil karena tampilan garis-garis dan proporsinya yang unik. Sebagian pengguna media sosial sambil bercanda menyebutnya sebagai “macan gemoy” atau “macan versi lucu.”


 Yang menarik dari kisah ini adalah soal biaya pembuatan patung yang ternyata bukan berasal dari dana desa atau anggaran pemerintah. Kepala Desa Balongjeruk, Safi’i secara tegas menyatakan bahwa seluruh biaya pembangunan patung Macan Putih bersumber dari dana pribadi dirinya sekitar Rp3,5 juta, dengan rincian biaya tukang sekitar Rp2 juta dan material sekitar Rp1,5 juta.

Karena penggunaan dana pribadi tersebut, warganet menjadi lebih longgar dalam mengomentari karya tersebut, meskipun tak sedikit yang memberi masukan konstruktif terkait visual patung. Pemerintah desa menyambut kritik tersebut dengan kepala dingin dan menyatakan rencana untuk melakukan penataan ulang serta perbaikan desain sehingga bentuk monumen mendekati gambaran awal dan lebih menonjol secara estetis.


 Di luar kontroversi bentuknya, hadirnya patung Macan Putih telah memberi dampak ekonomi sosial di tingkat lokal. Warga desa dan pelaku usaha mikro setempat mulai merasakan potensi peningkatan kunjungan wisatawan yang membawa peluang baru untuk UMKM seperti warung kopi, kuliner lokal, dan jasa foto. Antusiasme warga yang datang untuk berfoto menunjukkan bahwa ikon sederhana pun bisa memicu arus kunjungan yang positif bila dikelola dengan baik.

Jika direncanakan dan ditata lebih matang, monumen ini bisa menjadi bagian dari wisata budaya dan sejarah desa, sekaligus memperkaya ragam destinasi wisata di Kabupaten Kediri. Perpaduan antara cerita legenda, karya seni lokal, serta daya tarik sosial media memberi warna baru dalam cara orang melihat dan mengeksplorasi daerah-daerah di luar pusat kota besar.


 Kisah viralnya patung Macan Putih di Kediri memberi beberapa pelajaran penting. Pertama, karya seni publik tidak hanya soal bentuk semata, tetapi juga tentang cerita dan konteks sosial yang melingkupinya. Monumen yang berasal dari kisah lokal memberi identitas kuat bagi desa, meskipun dalam praktiknya wujudnya belum sempurna.

Kedua, fenomena seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat modern, terutama generasi muda, menjadikan media sosial sebagai alat untuk memviralkan hal-hal unik dan kemudian menjadi daya tarik wisata baru. Interaksi antara budaya tradisional dengan teknologi digital membuka peluang baru bagi desa-desa kecil untuk menarik perhatian lebih luas.

Patung Macan Putih di Desa Balongjeruk, Kabupaten Kediri, adalah contoh nyata bagaimana karya seni sederhana yang lahir dari cerita lokal bisa menjadi pembicaraan nasional. Meskipun menuai komentar beragam, kehadiran patung tersebut membuka peluang baru bagi desa untuk memperkuat daya tariknya di mata publik. Menatap ke depan, perbaikan desain dan penataan yang matang bisa mengubah perhatian media sosial menjadi peluang nyata bagi masyarakat setempat untuk berkembang secara ekonomi dan kultural.

Minggu, 14 September 2025

ALIRAN ASAM KALIPAIT KABUPATEN BONDOWOSO - JAWA TIMUR

Aliran Asam Kalipait adalah sungai unik yang berlokasi di desa Kalianyar kecamatan Ijen kabupaten Bondowoso. Sungai ini merupakan limpasan danau Kawah Ijen di perbatasan kabupaten Bondowoso dan kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, yang airnya sangat asam dan pahit karena mengandung senyawa belerang dan asam sulfat tinggi, mirip air aki, dan berwarna hijau. Dinamakan Kalipait ("sungai pahit") karena rasa asamnya yang pekat, aliran air ini mengandung unsur kimia Fe, Al, Cl, F, SO4, serta membentuk kristal gypsum dan tidak dapat dikonsumsi karena dapat merusak gigi.

  • Asam dan Pahit: Sesuai namanya, airnya memiliki rasa yang sangat asam dan pahit akibat kandungan belerang dari Kawah Ijen.
  • pH Rendah:Tingkat keasaman airnya sangat rendah, mencapai pH di bawah 1, atau setara air aki (baterai mobil).
  •  Berwarna Hijau: Warna hijau pada air sungai ini juga berasal dari danau Kawah Ijen.
  • Mengandung Senyawa Kimia: Aliran sungai ini mengandung senyawa H2SO4 (asam sulfat), sulfat, klorida, fluoride, serta mineral lainnya seperti zat besi (Fe) dan aluminium (Al).
  • Membentuk Gypsum:Reaksi kimia alami antara asam sulfat dan senyawa lain menghasilkan kristal gypsum (CaSO4·2H2O). 
     
    Asal dan Fenomena Alam
    • Berasal dari Kawah Ijen: Aliran air Kalipait merupakan limpasan air dari danau di Kawah Ijen.
  • Melalui Bebatuan Lava: Sungai ini mengalir di atas bebatuan bekas lava dari letusan Gunung Ijen Purba.
  • Tidak Ada Kehidupan Air: Tingkat keasaman yang ekstrem menyebabkan tidak ada biota air yang dapat hidup di aliran sungai Kalipait.
  • Lokasi dan Destinasi Wisata
    • Terletak di Bondowoso:
      Aliran Kalipait dapat ditemukan di Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
  • Dekat Kawah Ijen:
    Lokasinya sangat dekat dengan Kawah Ijen, sekitar 2 kilometer dari Pos Paltuding.
  • Air Terjun Kalipait:
    Karena mengalir di bebatuan dengan kemiringan tinggi, aliran ini sering disebut sebagai Air Terjun Kalipait.
  • Geosite:
    Kalipait merupakan salah satu geosite yang menjadi objek penelitian geokimia dan potensi wisata unik di kawasan Geopark Ijen.
     
     

Kamis, 04 September 2025

SITUS IJEN GEOPARK KABUPATEN BONDOWOSO DAN KABUPATEN BANYUWANGI - JAWA TIMUR

Ijen Geopark di Banyuwangi-Bondowoso resmi diakui dunia. Ijen Geopark pun sudah diakui oleh Unesco Global Geopark (UGG). Ijen Geopark terbagi menjadi tiga situs, yakni situs Geologi, Biologi dan Budaya.
 

Ada sekitar 21 situs di Ijen Geopark yang ada di kabupaten Bondowoso dan kabupaten Banyuwangi Jawa Timur. Ke-21 situs tersebut diantaranya
 
1.  Kawah Ijen



 2.  Kawah Wurung


  3. Aliran Asam Kalipait


  4. Kompleks Mata Air Panas Blawan

5.  Lava Blawan


 6.  Air terjun Gentongan

7. Aliran Lava Plalangan

8. Dinding Kaldera Ijen Megasari

9. Taman Batu Soor Solor

10. Pantai Watu Dodol


  11. Pantai Parang Ireng

12. Pantai Plengkung

13. Alas Purwo


 14. Pulau Merah


 15. Pantai Sukamade Meru Betiri

16. Pantai Teluk Ijo

17. Hutan Pelangi

18. Sembulungan

19. Situs Megalit Maskuning Kulon

20. Ijen Blue Fire

21. Air Terjun Blawan

Kawah Ijen
Ijen Blue Fire
Lava Blawan
Air Terjun Blawan
Komplek Air Panas Blawan
Dinding Kaldera Ijen Megarsari
Pantai Watu Dodol
Pantai Parang Ireng
Pantai Plengkung
Alas Purwo
Pulau Merah
Pantai Sukamade Meru Betiri
Pantai Teluk Ijo
Taman Batu So'on Solor
Air Terjun Gentongan
Kalipait
Aliran Lava Plalangan
Kawah Wurung
Hutan Pelangi
Sembulungan
Situs Megalit Maskuning Kulon

Baca artikel detikjatim, "Ijen Geopark Berstatus Global, Ini 21 Situs Keren yang Wajib Kamu Tahu" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6740529/ijen-geopark-berstatus-global-ini-21-situs-keren-yang-wajib-kamu-tahu.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/
Kawah Ijen
Ijen Blue Fire
Lava Blawan
Air Terjun Blawan
Komplek Air Panas Blawan
Dinding Kaldera Ijen Megarsari
Pantai Watu Dodol
Pantai Parang Ireng
Pantai Plengkung
Alas Purwo
Pulau Merah
Pantai Sukamade Meru Betiri
Pantai Teluk Ijo
Taman Batu So'on Solor
Air Terjun Gentongan
Kalipait
Aliran Lava Plalangan
Kawah Wurung
Hutan Pelangi
Sembulungan
Situs Megalit Maskuning Kulon

Baca artikel detikjatim, "Ijen Geopark Berstatus Global, Ini 21 Situs Keren yang Wajib Kamu Tahu" selengkapnya https://www.detik.com/jatim/wisata/d-6740529/ijen-geopark-berstatus-global-ini-21-situs-keren-yang-wajib-kamu-tahu.

Download Apps Detikcom Sekarang https://apps.detik.com/detik/

Sabtu, 23 Agustus 2025

GOA TEMBUS KABUPATEN WONOGIRI - JAWA TENGAH

Goa Tembus terletak di  Desa Gebangharjo, Kecamatan Pracimantoro ini ditemukan oleh warga sekitar tahun 2011. Tidak butuh waktu lama untuk memasuki kompleks Museum Karst dan Goa Tembus. Jika berkendara dari pusat kota Kecamatan Pracimantoro, pengunjung hanya perlu berkendara 15-20 menit ke arah barat. Sedangkan jika perjalanan dimulai dari pusat kota Kabupaten Wonogiri, perjalanan mungkin membutuhkan waktu lebih dari sejam. Goa Tembus berada di depan Museum Karst, letak persisnya berada di bukit yang lebih tinggi sehingga dari goa ini pengunjung bisa melihat pemandangan seputar museum dengan jelas. Panjang Goa Tembus ini sekitar 120 meter – 200 meter dengan lebar bagian tengah goa lebih dari lima meter dan tingginya yang bisa mencapai hingga 7 meter. Goa Tembus ini berbeda dari goa yang lain karena pada Goa Tembus sudah tidak ada lagi tetesan air yang menetes dari atas goa. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri.



BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA KOTA TANGERANG - BANTEN

Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta (CGK) terletak di Benda, Kota Tangerang, Provinsi Banten, di Indonesia, dan melayani wilayah metropolitan Jakarta. Meskipun sering disebut Bandara Cengkareng karena lokasi pembangunan awalnya, bandara ini tidak berada di wilayah administrasi Kota Jakarta, melainkan berada di antara wilayah Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang.


MASJID AL-BAITUL AMIEN KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR

Masjid Al-Baitul Amien atau masjid agung Jember merupakan masjid yang memiliki 7 kubah ini menjadi salah satu masjid tertua warisan para leluhur sejak masa pemerintahan kolonial Belanda, dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Lokasinya berada di Pusat Kota Jember, sebelah barat Alun-alun Jember.


Keunikan yang dimiliki oleh masjid ini sangat terlihat. Masjid Agung Jember ini mempunyai arsitektur bangunan yang sangat berbeda dengan kebanyakan masjid yang ada di Nusantara Indonesia. Bangunan paling unik dari Masjid Baitul Al-Amien ini terletak di bagian kubah yang dibentuk dengan sangat unik, seperti atap sebuah Dome.Pada setiap pintu masuknya, ada sebuah tiang penyangga di bagian luar kubah yang ditancapkan langsung ke tanah. Tentu saja jika dilihat dari kejauhan, tiang-tiang yang langsung menancap di tanah ini seperti membetuk sebuah jalan menuju ke bagian pintu utama masjid ini. 
Berdasarkan informasi dari pengurus Masjid Agung Jember, pembangunan tujuh kubah yang unik tersebut memiliki filosofi tersendiri, dan digunakan sebagai simbol. Tersirat disana bahwa kubah yang saling berdempetan satu sama lain memiliki filosofi agar umat islam senantiasa memperlihatkan kedekatan, menyambung tali silaturahmi, agar sebuah bangunan / keislaman menjadi lebih kokoh.
 

Pembangunan Masjid Agung Jember ini memang tidak tanggung-tanggung. Masjid ini memiliki 7 kubah dibangun bertumpuk satu sama lain, sehingga dapat difungsikan sebagai atap. Artinya, tidak ada atap tersendiri, melaikan kubah tersebut langsung menjadi atap bangunannya. Bagian kubah induk (kubah terbesar di tengah-tengah) menjadi atap untuk ruang utama masjid. Kemudian 4 kubah lainnya yang terletak di sisi utara dan selatan menjadi atap dari ruang serambi (ruang tambahan sholat). Kubah masjid yang ke-6 dan ke-7 digunakan sebagai atap tempat berwudhu. Angka tujuh disini diambil sebagai sebuah simbol penciptaan alam semesta, maupun tingkatan bumi dan langit, sekaligus mengingatkan kepada kekuasaan Allah SWT.

 Masuk kedalam ruang utama, atau dibawah kubah utama, maka kita akan langsung melihat plafon yang sangat megah dibagian atas. Plafon tersebut ditopang oleh 17 pilar yang berjejer dengan rapi. Angka 17 disini memiliki filosofi roka’at sholat, dan juga tanggal Nuzullul Qur’an (17 Ramadhan). Dinding-dindingnya secara keseluruhan dihiasi oleh tulisan kaligrafi yang berisi perintah untuk mengerjakan seluruh kewajiban, rukun islam.

Jika dilihat bangunan masjid secara keseluruhan, memang bangunan Masjid Agung Jember ini lebih menonjolkan bagian kubahnya saja, yang memayungi seluruh bagian dibawahnya. Apalagi, jika dilihat dari kejauhan, kita seperti tidak melihat adanya dinding maupun pilar penopang yang ada di masjid ini. Sehingga, bangunan Masjid Agugn Jember ini dapat memunculkan kesan ciri khas tersendiri, dengan sejuta simbol dan juga filosofi yang dikaitkan dengan berbagai bagian bangunannya. Filosofi yang diambil tentu saja adalah filosofi tentang kewajiban umat islam, serta tentang persatuan dan kesatuan umat muslim.

RANU GRATI KABUPATEN PASURUAN - JAWA TIMUR

Ranu (Danau) Grati terletak di Desa Ranuklindungan, Kecamatan Grati Kabupaten Pasuruan, sekitar 20 km timur kota Pasuruan. Di sekitaran Ranu Grati kini dibuat semacam dermaga yang dilengkapi dengan lampu-lampu hias yang cantik, plus ada “Love Spot” alias spot foto berupa tanda cinta yang dipasang tepat di ujung dermaga. Pemandangan baru inilah yang menarik minat wisatawan yang penasaran dengan perubahan Danau Ranu. 

Danau Ranu merupakan obyek wisata alam dengan luas 107 hektar dengan latar belakang pegunungan Tengger. Tempat wisata ini memang cocok bagi siapa saja yang senang berpetualang. Baik secara individu, keluarga maupun rombongan. Selain bisa menikmati panorama alam juga bisa memancing, bersepeda air ataupun naik perahu wisata mengelilingi danau dilengkapi aneka permainan anak, juga bisa dilakukan.

Untuk mengenang peristiwa tenggelamnya tank amfibi yang terjadi pada 17 Oktober 1979, di Ranu Grati dibangun tugu peringatan yang bertuliskan daftar nama 22 anggota pasukan pendarat amfibi AD yang gugur. Kejadian tenggelamnya tank BTR 50P diluar dugaan. Secara teori dalam keadaan mesin mati, kendaraan amfibi dapat mengapung sekitar delapan jam. Banyak sepekulasi dalam peristiwa tersebut. Yang jelas, danau ini termasuk jenis danau maar, yakni danau vulkanik, akibat letusan gunung berapi.

MASJID AL-MUBAROK KANJENG JIMAT KABUPATEN NGANJUK - JAWA TIMUR

Masjid Besar Al-Mubarok Kanjeng Jimat terletak di desa Kacangan kecamatan Bebrbek kabupaten Nganjuk telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Peringkat Provinsi berdasarkan SK no. 188/ 148 /KPTS/013/2016. Masjid Besar Al-Mubarok didirkan pada tahun 1745 M oleh Raden Turnenggung Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat, dan pada tahun 1745 M beliau adalah Bupati Berbek Pertama. Makam Raden Tumenggung Sosro Koesoemo atau Kanjeng Jimat berada di lingkungan Masjid. Penentuan angka tahun pendirian masjid ini didasarkan pada temuan candra sengkala di kanan kiri mihrab yang berbunyi Adege Masjid ing Toya Mirah sinegkalan, "Toto Caturing Pandito Hamadangî' yang apabila diartikan terbaca angka tahun 1745 M.

Bangunan masjid ini berukuran 14 x 14 m,  bangunan masjid tersebut menggunakan model Tajug Lawakan Lambang Teplok di mana tiang utamanya menopang langsung atap (brunjungan), sedangkan bangunan serambi menggunakan atap limasan yang disebut Limasan Trajumas. Beberapa ornamen bersejarah diantaranya, mimbar dari kayu jati berukir yang dibuat pada tahun 1758, bedug pada tahun 1759 dan atap masjid dari ijuk pada tahun 1760 yang pada akhirnya diganti sirap.

Pada halaman depan terdapat yoni (salah satu kelengkapan ritual agama Hindu) yang sekarang difungsikan sebagai tempat untuk melihat dan menentukan waktu. Pada Tahun 2015 dilakukan pemugaran pada serambi masjid bagian depan yang ditambah menjadi bangunan dua lantai, tanpa mengganti bagian-bagian penting (bagian interior masjid masih asli). Masjid yang asli tidak dirubah sama sekali. Perubahan hanya terlihat dari tampak depan karena bangunan utama masjid AI Mubarok tertutup bangunan tambahan.

Jumat, 22 Agustus 2025

ALUN-ALUN LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT - JAWA BARAT

Alun-Alun Lembang Kabupaten Bandung Barat merupakan salah satu destinasi wisata yang populer di daerah Lembang Jawa Barat. Tempat ini terletak strategis di pusat kota Lembang, menjadikannya mudah di akses oleh penduduk lokal maupun wisatawan. Sejak di resmikan, tempat ini telah menjadi ruang publik yang tidak hanya menawarkan keindahan alam tetapi juga berbagai fasilitas menarik yang dapat di nikmati oleh semua kalangan. Alun-alun ini di kenal sebagai tempat yang nyaman untuk bersantai, berkumpul dengan keluarga, dan menikmati suasana yang unik.

Salah satu hal yang menjadikan Alun-Alun Lembang menarik adalah suasana yang segar dan bersahaja. Tempat ini di kelilingi oleh pepohonan hijau, menyediakan ruang bagi berbagai aktivitas outdoor. Pengunjung dapat menikmati pemandangan indah sambil berjalan-jalan di sekitar area alun-alun. Sejarah singkatnya, Alun-Alun Lembang dulunya adalah pusat aktivitas masyarakat, dan sekarang sudah berkembang menjadi tempat berkumpul yang modern.

Seiring dengan perkembangannya, Alun-Alun Lembang menawarkan berbagai fasilitas yang mendukung pengalaman wisata yang menyenangkan. Terdapat area bermain anak, tribun untuk bersantai, dan food stall yang menjual berbagai kuliner khas daerah. Dengan semua keunikan dan fasilitas yang ada, Alun-Alun Lembang menarik perhatian banyak pengunjung dari berbagai kalangan, baik itu warga Lembang maupun wisatawan yang sedang berkunjung. Terlebih lagi, kehadiran tempat ini sebagai destinasi wisata gratis memberikan nilai tambah, menjadikannya pilihan yang tepat untuk menghabiskan waktu tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam.


 

TUGU JOGJA KOTA YOGYAKARTA - D.I. YOGYAKARTA

Tugu Jogja di persimpangan jalan P. Diponegoro kota Yogyakarta. pada zaman dahulu memiliki ketinggian yang lebih tinggi, sekitar 25 meter dengan puncaknya yang membulat. Nama monumen tersebut pada zaman dahulu sebenarnya bukan Tugu Jogja sebagaimana yang dikenal saat ini. Dahulu nama tugu ini adalah Golong Gilig yang menggambarkan bentuknya tugu pada zaman dahulu yaitu tiangnya berbentuk silinder atau dalam bahasa Jawa disebut Golong dan puncaknya yang bulat yaitu Gilig.


Namun sayangnya, Yogyakarta yang terletak di tepi Samudera Hindia menyebabkan sering terjadinya gempa bumi di daerah ini, di mana pada tanggal 10 Juni 1867, Tugu Jogja ini roboh akibat getaran gempa yang cukup kencang di wilayah Yogyakarta. Maklum, karena Tugu Jogja ini dibuat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, sehingga dipastikan untuk konstruksinya belum terlalu baik seperti bangunan zaman sekarang. Lalu karena hancur, diprakarsai oleh Pemerintah Hindia Belanda dan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat, akhirnya Tugu Jogja mulai direnovasi kembali pada tahun 1889, hingga bentuknya seperti sekarang, yaitu tiangnya cenderung mengotak, dengan puncaknya seperti gunungan yang mengerucut.


 

PPG CLUSTER DURIAN KABUPATEN JEMBER - JAWA TIMUR

Persemaian Permanen Garahan (PPG) cluster durian merupakan agrowisata di desa Sidomulyo kecamatan Silo kabupaten Jember, Jawa Timur, sekitar 28 km dari kota Jember ke arah Banyuwangi. Wisata yang diluncurkan pada tanggal 5 Desember 2020 lalu itu, sampai sekarang, terus menghidangkan suasana yang apik dan tak membosankan. Tak heran jika menjadi salah satu wisata yang favorit di Jember.Wisata ini menyuguhkan suasana pertanian dan perkebunan di sekatarnya. Pengunjung merasakan keindahan alam yang luar biasa.

 

Fasilitas di tempat itu bisa dikatakan lengkap. Mulai dari cafe pinus untuk menikmati hidangan makan dan minum hingga wahana permainan anak-anak maupun dewasa, tubing, penginapan dan lain sebagainya. Wisata itu buka 24 jam. Tiket masuk pengunjung hanya Rp5 ribu, parkir kendaraan roda empat Rp5 ribu dan khusus roda dua Rp2 ribu.

 

Untuk berkunjung ke lokasi Agrowisata Persemaian Permanen Garahan (PPG) cluster durian, pengunjung membutuhkan waktu sekitar satu jam dari arah jantung kota Jember ke arah timur.

 


MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA KOTA CIREBON - JAWA BARAT

Masjid Agung Sang Cipta Rasa didirikan pada abad ke-15 M oleh para mubaligh Tanah Jawa. Dalam pembangunannya, Sunan Gunung Jati menunjuk Sunan Kalijaga sebagai arsitek. Di samping itu, Raden Sepat juga ditugaskannya untuk membantu Sunan Kalijaga dalam menunaikan amanah. Sebelumnya, ahli bangunan Majapahit itu menjadi tawanan dalam perang Demak-Majapahit. Untuk menyelesaikan proyek ini, sekitar lima ratus orang pekerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit turut terlibat. 

                               Alun-alun depan Masjid Agung Sang Cipta Rasa

 Menurut buku Masjid-masjid Bersejarah dan Ternama Indonesia, Masjid Agung Sang Cipta Rasa berdiri sejak 1498 M. Tarikh yang agak berbeda disebutkan dalam Masjid-masjid Bersejarah di Indonesia karya Abdul Baqir Zein. Menurutnya, situs bernilai historis ini telah ada mulai tahun 1480 M. Ada pula yang berpendapat berdirinya masjid itu terjadi pada 1478 M dan 1489 M.

Terlepas dari soal keterangan tahun berdirinya, masjid tersebut merekam memori sejarah dakwah Islam yang dilakukan para wali. Tidak mengherankan bila masyarakat setempat terus merawat tradisi yang telah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Misalnya, budaya azan pitu. Seperti tampak dari namanya, tradisi itu harfiahnya berarti ‘mengumandangkan azan.’ Namun, yang dimaksud ialah bukan azan seperti biasa. Pasalnya, ada tujuh orang muazin sekaligus yang mengumandangkan panggilan shalat itu. Ada kisah yang melatari lahirnya kebiasaan kultural tersebut. 

                                      Pintu Gerbang masjid Sang Cipta Rasa

Konon, dahulu kala ada seorang pendekar sakti yang bernama Aji Menjangan Wulung. Pengamal ilmu hitam ini kerap kali mengganggu kaum Muslimin. Sebab, dirinya membenci agama Islam. Dari hari ke hari, kebenciannya itu kian akut. Akhirnya, Aji Menjangan menjadikan Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai sasaran. Ia memanjat dinding dan bertengger di atas tempat ibadah ini. Setiap muazin yang hendak menyuarakan azan diserangnya. Kaum Muslimin pun resah. Begitu mengetahui kejadian tersebut, Sunan Gunung Jati langsung mengundang para ulama setempat untuk bermusyawarah. Setelah memohon petunjuk Allah SWT, mereka pun menyepakati solusi. Sunan Gunung Jati menunjuk tujuh orang untuk menjadi muazin serentak. Mereka ditugaskannya untuk mengumandangkan azan secara bersama-sama. Suara azan yang dilantunkan serempak itu menyebabkan Aji Menjangan kebingungan. Pembuat onar ini hilang akal karena tidak tahu arah sumber suara. Akhirnya, sosok pembenci Islam tersebut lari terbirit-birit. Sejak itu, masjid tersebut tidak pernah diganggu lagi. 

Itu adalah sepenggal kisah dari salah satu tradisi unik di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Dahulu azan dengan cara demikian dilantunkan setiap hendak shalat lima waktu. Akan tetapi, tradisi tersebut pada saat ini hanya dilakukan pada momen shalat Jumat, yaitu azan pertama.

Masjid Agung Sang Cipta Rasa juga berkaitan dengan narasi wafatnya Syekh Siti Jenar. Sufi yang hidup pada abad ke-16 itu dituding telah menyebarkan ajaran sesat. Karena itu, otoritas setempat yang didukung Wali Songo lalu menjatuhkan hukuman mati atasnya. Pelaksanaan eksekusi digelar di area kompleks Keraton Kasepuhan, dekat masjid tersebut. Konon, senjata yang digunakan untuk menghabisi nyawa sang salik ialah keris Kaki Kantanaga milik Sunan Gunung Jati.

Nama Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki makna tersendiri. Itu diambil dari kata sang yang berarti ‘keagungan’, cipta, yakni ‘dibangun’, serta rasa atau ‘digunakan.’ Ringkasnya, nama tersebut bermakna ‘bangunan agung yang dibangun untuk digunakan umat Islam.’ Pemilihan namanya mencerminkan tingginya rasa toleransi yang ditunjukkan Wali Songo. Mereka tidak memilih nama yang kearab-araban, tetapi justru mengutamakan unsur lokal. Dengan begitu, pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa ajaran Islam dapat mengakar dan tumbuh berkembang di tengah masyarakat setempat.

                                       Di serambi masjid Agung Sang Cipta Rasa

Berbeda dengan umumnya masjid-masjid klasik di Pulau Jawa, Masjid Agung Sang Cipta Rasa memiliki atap yang nonkemuncak. Bentuk limasan susun tiga itu disebut pula sebagai lambang-teplok. Keindahannya menginspirasi banyak orang, termasuk Thomas Karsten. Arsitek Hindia Belanda ini mendesain Museum Sonobudoyo dengan mencontoh corak pada bangunan di Cirebon tersebut.

Ada 12 saka guru atau pilar utama yang menyangga atap masjid tersebut. Antara satu dan yang lainnya terhubung dengan balok-balok melintang. Masing-masing ikatannya menggunakan pasak. Uniknya, salah satu tiangnya terbuat dari serpihan-serpihan kayu yang disusun dan diikat. Tiang tersebut disebut pula sebagai sokotatal. Ada makna filosofis di balik tiang sokotatal, yakni bahwa persatuan yang kokoh bisa menopang beban seberat apa pun. Mengenai pembuatnya, terdapat beberapa sumber. Ada yang mengatakan, Sunan Kalijaga-lah kreatornya. Namun, ada pula yang menyebut Sunan Gunung Jati. 

Ruang shalat utama memiliki luas 17,8x 13,3 m persegi. Untuk memasukinya, jamaah dapat melalui satu dari sembilan pintu—semuanya melambangkan jumlah Wali Songo. Di dalamnya, terdapat mihrab dengan ukiran-ukiran bermotif bunga teratai, hasil kreasi Sunan Kalijaga. Munculnya motif teratai juga menunjukkan adaptasi seni arsitektur Hindu. Masih di bagian mihrab, ada tiga buah ubin dengan tanda khusus pada masing-masingnya yang mengisyaratkan pokok-pokok agama, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Jamaah yang hendak mencapai ruang utama, harus melalui pintu kecil dan pendek. Alhasil, mereka mesti membungkukkan badan. Ini mengandung makna simbolis bahwa seorang Muslim harus merendahkan diri ketika beribadah. Jangan sampai hati diliputi sifat sombong atau riya. 

Sumber: Republika.id

Selasa, 12 Agustus 2025

DUSUN WISATA BRAU KOTA BATU - JAWA TIMUR

Dusun wisata Baru terletak di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu berjarak sekitar 7,5 km dari pusat Kota Batu atau sekitar 25 km dari pusat kota Malang. Dusun Brau ini dikelilingi oleh panorama alam yang menakjubkan dan udara segar yang menyegarkan. Dusun Brau merupakan destinasi wisata edukasi yang menarik bagi para pengunjung yang ingin merasakan pengalaman menjadi peternak susu. 

Wisata edukasi di Dusun Brau menawarkan pengalaman di mana pengunjung tidak hanya dapat melihat proses pemerahan susu tetapi juga belajar tentang manfaat susu dan cara pengolahan susu menjadi berbagai produk. Selama program ini, pengunjung akan disuguhi segelas susu segar dan stik susu sebagai sambutan. Selain itu, mereka juga bisa menikmati berbagai olahan susu seperti yogurt, es krim, permen susu, dan keripik susu yang dihasilkan oleh masyarakat setempat.



MASJID BESAR CIPAGANTI KOTA BANDUNG - JAWA BARAT

Masjid Cipaganti ini terletak di Jalan R.A.A. Wiranatakusumah No. 85, dulu bernama Jalan Cipaganti, Kota Bandung. Pada zaman Belanda, Jalan Cipaganti bernama Nylandweg. Masjid Raya Cipaganti adalah salah satu masjid tertua di Kota Bandung dibangun sekitar tahun 1933. Keberadaannya bak saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tempat ibadah ini menarik bukan hanya dari sisi sejarah, tapi juga memiliki arsitektur yang indah dan menarik. 

Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Cipaganti dilakukan pada 7 Februari 1933 atau 11 Syawal 1351 Hijriah. Setahun kemudian atau 27 Januari 1934, masjid yang berdiri di atas lahan seluas 2.675 meter persegi ini diresmikan. Masjid Cipaganti merupakan tempat bersejarah bagi presiden pertama RI, Soekarno. Konon, masjid tersebut merupakan tempat pembicaraan penting Presiden Soekarno saat berada di Bandung. Masjid Raya Cipaganti juga pernah dijadikan markas tentara Pembela Tanah Air (PETA).

 

Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang juga merupakan arsitek Hotel Preanger dan Villa Isola, dibantu Het Keramische Laboratorium Bandung (sekarang Balai Besar Keramik). Diresmikan oleh Bupati Bandung R Tumenggung Hassan Sumadipradja bersama Patih Bandung R Wirijadinata dan Penghulu Bandung H Abdoel Kadir. Arsitektur Masjid ini bercorak Jawa dan Eropa. Corak Jawa pada masjid itu terlihat dari penggunaan atap tajug tumpang dua. Sementara corak Eropa, terlihat dari pemakaian kuda-kuda segi tiga yang berfungsi untuk penyangga atap.

 

Hingga saat ini, masjid tersebut memang sudah masuk dalam bangunan cagar budaya kota Bandung. Masjid Cipaganti telah beberapa kali mengalami renovasi. Walau begitu, bangunan pokok masjid sejak pertama dibangun tetap ada. Bangunan masjid pertama itu menjadi bagian tengah masjid sekarang. Kaligrafi di pintu masuk, kalimat hamdalah di sokoguru, plafon, dan desain interior tetap dibiarkan seperti sejak 1933. Lampu ukuran besar juga masih digunakan dan digantung di tengah bangunan utama masjid. Selain pada 1965, perombakan juga terjadi pada 1979.

 

Sebelum mengalami renovasi, Masjid Raya Cipaganti memiliki kemiripan dari segi arsitektur dengan Gereja Bethel, yaitu dari pintu utama yang menjorok dan disangga dengan dua pilar di kanan dan kirinya. Bangunan masjid yang berwarna lembut dan dikelilingi pilar-pilar dari bata juga merupakan ciri khas arsitektur Eropa. Sampai saat ini, nuansa Eropa masih terasa pada Masjid Raya Cipaganti sejak memasuki halaman depan masjid. Masjid ini juga sering dikunjungi oleh wisatawan lokal hingga mancanegara, selain warga Malaysia, wisatawan mancanegara yang kerap berkunjung ke Masjid Cipaganti ialah mereka yang datang dari Belanda. Umumnya, wisatawan asing, bukan bertujuan ibadah. Namun mereka datang untuk mengetahui sejarah bangunan. Hal ini tidak terlepas dari bangunan Masjid Cipaganti yang merupakan karya arsitektur berkebangsaan Belanda yaitu CP Wolff Schoemaker.

 

MONUMEN BEDOL DESA WADUK GAJAH MUNGKUR KABUPATEN WONOGIRI - JAWA TENGAH

Waduk Gajah Mungkur di kabupaten Wonogiri ternyata dalam pembangunannya menyimpan sejarah penuh dengan keharuan. Pasalnya dalam pembangunann...