Sabtu, 07 Desember 2024

MAKAM KARAENG GALESONG KABUPATEN MALANG - JAWA TIMUR

Karaeng Galesong adalah pangeran Kerajaan Gowa putra Hasanudin yang menjadikan wilayah Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur sebagai daerah pertahanannya dan gugur di sana.

Wilayah Ngantang merupakan daerah yang terkurung gunung-gunung ternyata tidak membuat wilayah Malang menjadi tempat yang betul-betul terpencil dan sepi dari manusia. Tercatat sejak masa lalu, bahkan daerah yang cukup bergunung dan jauh seperti Ngantang telah dihuni oleh seorang pangeran dari Gowa (sekarang Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan) yaitu Karaeng Galesong

Bahkan karena terjal dan cukup sulitnya akses ke daerah Ngantang ini, wilayah tersebut malah dijadikan Karaeng Galesong bersama Trunojoyo penguasa asal Madura sebagai benteng terakhir pertahanan mereka. Kedua bangsawan dari wilayah yang berbeda ini saling bekerjasama dalam melawan kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Adipati Anom. Karaeng Galesong sendiri diketahui merupakan menantu dari Trunojoyo.


Karaeng Galesong sendiri merupakan salah satu putra dari Pangeran Hasanudin. Perjalanan jauh yang dilakukannya ke Jawa Timur merupakan akibat dari jatuhnya Kerajaan Gowa ke kekuasaan Belanda pada tahun 1669. Karena kondisi itu dia memilih untuk mencari perlindungan ke wilayah lain dan akhirnya dia mendarat ke sebelah timur pulau Jawa

 

Di Jawa sendiri, Trunojoyo dan Karaeng Galesong sebenarnya memiliki wilayah pertahanan di Kediri dan Bangil. Namun desakan dari Kerajaan Mataram yang dibantu oleh VOC membuat mereka terus tertekan hingga akhirnya terdesak sampai wilayah Blitar kemudian ke Malang dan pada akhirnya tertekan hingga sampai di Ngantang, Malang, Jawa Timur.

Dengan keterbatasan prajurit yang mereka miliki, wilayah Ngantang yang cukup terpencil dan tertutup diyakini dapat cukup menahan serangan dari lawan. Karaeng Galesong sendiri juga mundur dari daerah pertahanannya hingga akhirnya bergabung dengan Trunojoyo di Ngantang.


 Namun sayangnya pada 21 November 1679, perlawanan yang sengit dari Karaeng Galesong harus berakhir bukan karena hunusan pedang lawan, namun karena penyakit yang dideritanya. Karaeng Galesong kemudian dimakamkan di wilayah pertahanannya di Ngantang dan makamnya hingga sekarang masih terawat.


Meninggalnya Karaeng Galesong menimbulkan sedikit fraksi di barisan pasukan  Makassar yang berada di barisan Trunojoyo. Sebagian memilih untuk kembali ke Makassar, namun lebih banyak lagi yang tetap bergabung dengan Trunojoyo untuk melawan Kerajaan Mataram yang dibantu oleh VOC. Walau begitu karena pasukan yang terus berkurang dan melemah, perjuangan Trunojoyo akhirnya juga harus berakhir pada tahun 1680.



Jumat, 06 Desember 2024

MONUMEN NASIONAL JAKARTA PUSAT - DKI JAKARTA

Presiden Soekarno pada tahun 1955 membuat sayembara desain untuk membuat monumen yang mengenang perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Sayembara ini dilakukan dalam dua periode yakni tahun 1955 dan 1960.

Desain milik Silaban berhasil terpilih pada sayembara pertama, namun pada sayembara  selanjutnya tak satupun karya berhasil terpilih. Presiden Soekarno kemudian memutuskan meminta kembali Silaban untuk mendesain ulang Monumen Nasional sesuai dengan konsep pemikirannya yang berbentuk Lingga dan Yoni. Selain Silaban, ada beberapa arsitek lain yang juga terlibat dalam pembangunan Monas yakni R.M. Soedarsono. Monas resmi dibangun pada 17 Agustus 1961 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975.


 Monumen Nasional atau yang populer disebut Monas merupakan monumen peringatan yang memiliki tinggi 132 meter atau sekitar 433 kaki dan dibangun diarea seluas 80 Hektar. Monas sendiri memiliki keindahan yang terletak di bagian puncak tugu karena terdapat lidah api yang dilapisi oleh lembaran emas yang menggambarkan sebuah semangat perjuangan Bangsa Indonesia yang menyala-nyala layaknya api.
 
Tujuan didirikan Monas untuk mengenang perlawanan dan perjuangan Bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, memberikan Bangsa Indonesia inspirasi dan membangkitkan jiwa semangat patriotisme sebagai generasi penerus bangsa.

 
HAL MENARIK YANG DAPAT DITEMUKAN DI TUGU MONAS JAKARTA
1. Relief Sejarah Indonesia

Relief sejarah Indonesia yang berbentuk timbul terdapat disekeliling monument. Relief tersebut menggambarkan sejarah Indonesia mulai dari masa penjajahan Belanda, perlawanan Rakyat Indonesia hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern.

2. Ruang Kemerdekaan
Ruang kemerdekaan berada di bagian dalam cawan monumen yang berbentuk amphitheater dimana banyak benda yang berlapiskan emas di ruang tersebut. Di dalam ruangan ini menyimpan simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia, salah satunya adalah naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan didalam kotak kaca dalam pintu gerbang yang berlapiskan emas.

3. Pelataran Puncak dan Api Kemerdekaan
Pelataran puncak berada di ketinggian 115 meter dari permukaan tanah. Terdapat teropong untuk para pengunjung agar dapat melihat keindahan di seuluruh penjuru kota Jakarta, salah satunya yakni gedung-gedung pencakar langit.


 Di Puncak Monumen Nasional juga terdapat cawan yang dilapisi emas seberat 50 kilogram dan terdapat lidah api atau obor sebagai simbol semangat perjuangan Rakyat Indonesia saat meraih kemerdekaan.

 



GERBANG PENDAKIAN GUNUNG LAWU CEMORO SEWU KABUPATEN MAGETAN - JAWA TIMUR

Cemoro Sewu adalah sebuah dusun di Kabupaten Magetan yang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Timur yang berbatasan dengan provinsi Jawa...